Bupati Kutim dorong bahasa ibu diwariskan lintas generasi - ANTARA News Kalimantan Timur
Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mendorong pelestarian bahasa ibu, yakni bahasa daerah Kutai sebagai bagian dari upaya menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat karakter masyarakat di tengah perkembangan zaman.
"Bahasa dan budaya Kutai adalah identitas sehingga perlu dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perubahan sosial dan perkembangan teknologi," ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Ahad.
Bahasa ibu tidak sekadar menjadi alat komunikasi sehari-hari, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, kearifan lokal, tata krama, dan cara pandang masyarakat yang terbentuk dari perjalanan panjang suatu komunitas.
Untuk itu, pelestarian bahasa Kutai perlu dimulai dari lingkungan keluarga, diperkuat melalui pendidikan dan kegiatan kebudayaan di masyarakat. Orang tua pun memiliki peran penting dalam mengenalkan bahasa daerah kepada anak sejak dini, sehingga penggunaannya tetap hidup dalam keseharian.
Upaya tersebut juga membutuhkan dukungan sekolah dan pemerintah daerah agar generasi muda tidak hanya mengenal bahasa Kutai sebagai warisan leluhur, tetapi mampu menggunakan sebagai bagian dari identitas mereka.
Di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang semakin luas, penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing menjadi kebutuhan. Namun hal itu tidak semestinya membuat masyarakat meninggalkan bahasa ibu yang menjadi salah satu penanda kekayaan budaya daerah.
"Pelestarian bahasa Kutai juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan seni, tradisi, dan kegiatan kebudayaan. Melalui berbagai ruang ekspresi tersebut, generasi muda dapat mempelajari bahasa daerah secara lebih dekat dan menarik," katanya.
Selain menjaga identitas, keberadaan bahasa ibu turut memperkuat hubungan antargenerasi. Pengetahuan lokal yang tersimpan dalam ungkapan, cerita rakyat, pantun, dan tradisi lisan dapat diteruskan sehingga tidak terputus bersama berkurangnya penutur bahasa daerah.
Ia juga mendorong pelibatan komunitas budaya, tokoh adat, tenaga pendidik, dan keluarga dalam membangun lingkungan yang mendukung penggunaan bahasa Kutai.
Pelestarian bahasa ibu bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok adat, tapi gerakan bersama masyarakat. Keberhasilan upaya tersebut bergantung pada kemauan generasi muda untuk mengenal, menuturkan, dan meneruskan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
"Melalui langkah ini, bahasa Kutai dapat tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Kutim dalam pembangunan yang terus berkembang," katanya.
Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.