Bukan Pertandingan, Perjalanan Wisata Piala Dunia 2026 Jadi Penyumbang Emisi Terbesar

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi turnamen olahraga dengan jejak karbon terbesar dalam sejarah. Penyebab utamanya bukan berasal dari jalannya pertandingan di lapangan, melainkan mobilitas jutaan suporter yang melakukan perjalanan ke stadion dari berbagai belahan dunia.

Ajang yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini berlangsung ketika dunia terus mencatat rekor suhu tertinggi. Amerika Serikat bahkan mengalami gelombang panas ekstrem pada akhir pekan 4 Juli, sementara cuaca panas kembali terjadi saat laga final berlangsung.

Berdasarkan studi terbaru, melansir Earth.com, Senin, 20 Juli 2026, Piala Dunia tahun ini diperkirakan menghasilkan sekitar 4,2 juta metrik ton emisi karbon dioksida. Lebih dari 80 persen emisi tersebut berasal dari perjalanan penonton menuju lokasi pertandingan, dengan transportasi udara menjadi penyumbang terbesar.

Temuan ini menunjukkan bahwa dampak iklim sebuah turnamen berskala global tidak hanya ditentukan oleh penyelenggaraan pertandingan, tapi juga tingginya mobilitas penggemar. Di sisi lain, FIFA telah menetapkan target untuk memangkas emisi hingga 50 persen pada 2030 dan mencapai nol emisi bersih pada 2040.

Organisasi tersebut juga berkomitmen meninjau regulasi agar lebih ramah iklim, serta menerbitkan laporan iklim setiap dua tahun untuk memantau kemajuan upaya dekarbonisasi.

Hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa penyelenggara acara besar perlu menghitung manfaat ekonomi dan sosial bersamaan dengan biaya lingkungan yang ditimbulkan. Upaya menekan emisi tidak cukup dilakukan di dalam stadion, tapi juga harus menyasar sistem transportasi dan pola perjalanan suporter menuju lokasi pertandingan.

Sumber Emisi Karbon

Emisi karbon tertinggi diperkirakan terjadi selama Piala Dunia berlangsung. Senin (20/7/2026). (dok. pexels.com/Chris LeBoutillier)

Perbesar

Emisi karbon tertinggi diperkirakan terjadi selama Piala Dunia berlangsung. Senin (20/7/2026). (dok. pexels.com/Chris LeBoutillier)

Ajang olahraga berskala internasional selama ini kerap dikritik karena menghasilkan jejak karbon yang besar. Piala Dunia menjadi salah satu sorotan utama karena mampu menarik jutaan penonton dari berbagai negara dalam waktu yang bersamaan.

Kondisi tersebut mendorong sekelompok ekonom mencari cara untuk mengukur sumber emisi secara lebih akurat. Profesor Shaun Larcom dari University of Cambridge bersama tim peneliti mengembangkan metode untuk memetakan emisi yang dihasilkan selama penyelenggaraan acara besar.

Hasil riset mereka menunjukkan, sebagian besar dampak lingkungan bukan berasal dari pembangunan stadion atau operasional pertandingan, melainkan mobilitas manusia, termasuk perjalanan para pemain, staf, dan jutaan suporter yang menggunakan berbagai moda transportasi untuk menghadiri turnamen dari berbagai belahan dunia.

Biaya Penerbangan Tinggi

Para suporter Spanyol berselebrasi di pusat kota Madrid

Perbesar

Para suporter Spanyol berselebrasi di pusat kota Madrid setelah Spanyol mengalahkan Argentina dalam laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina di East Rutherford, N.J., dekat New York, Minggu, 19 Juli 2026. (AP Photo/Manu Fernandez)

Perjalanan menjadi penyumbang emisi terbesar dalam Piala Dunia 2026. Sekitar 82 persen dari total proyeksi emisi berasal dari sektor transportasi, dengan penerbangan internasional sebagai kontributor tunggal terbesar.

Sebaliknya, emisi dari stadion, akomodasi, dan konsumsi makanan hanya menyumbang kurang dari 20 persen dari total jejak karbon turnamen. Dalam skala individu, setiap penonton diperkirakan menghasilkan sekitar 1,8 metrik ton emisi karbon dioksida selama menghadiri ajang tersebut.

Angka itu setara dengan hampir sepertiga emisi tahunan rata-rata yang dihasilkan seorang warga Eropa. Pola serupa juga ditemukan dalam berbagai penelitian sebelumnya.

Salah satunya, studi terhadap penggemar sepak bola di Jerman yang menunjukkan perjalanan menuju pertandingan selama satu musim mampu menghasilkan ratusan ribu ton emisi karbon, dengan penggunaan mobil menjadi penyumbang terbesar.

Berbagi Tanggung Jawab

Suporter Timnas Vietnam.

Perbesar

Sebagian besar penggemar menghasilkan emisi paling banyak. (Bola.com/VFF).

Sebagian besar emisi Piala Dunia 2026 berasal dari keputusan perjalanan yang dibuat para penggemar, mulai dari memilih bandara, menggunakan pesawat, hingga menentukan moda transportasi darat menuju stadion. Kondisi ini membuat pembagian tanggung jawab atas dampak lingkungan menjadi tidak sederhana.

Jika seluruh beban dibebankan pada penonton, penyelenggara berisiko mengabaikan emisi yang muncul sebagai konsekuensi penyelenggaraan turnamen. Penelitian tersebut memperkirakan kerugian iklim Piala Dunia mencapai sekitar USD 790 juta dengan asumsi harga karbon sekitar USD 550 per ton.

Sebagai perbandingan, dampak emisi tur konser Coldplay yang menerapkan berbagai upaya pengurangan karbon diperkirakan bernilai hampir USD 20 juta. Peneliti menilai, pengurangan emisi dapat dilakukan dengan mendorong suporter beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu usulnya adalah menyediakan aplikasi yang memberi insentif bagi penonton yang memilih perjalanan beremisi rendah. Upaya ini dinilai penting karena sekitar 82 persen jejak karbon Piala Dunia 2026 berasal dari sektor perjalanan akibat jarak antarlokasi pertandingan yang tersebar di tiga negara.