Bukan hanya manusia, ini dampak asap kebakaran hutan bagi orangutan
Jakarta (ANTARA) - Kabar meninggalnya orangutan Kalimantan bernama Sempurna menjadi perhatian di tengah karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan. Orangutan jantan dewasa itu ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di kawasan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu (30/8).
Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kemudian melakukan evakuasi. Sempurna sempat mendapatkan terapi oksigen dan cairan intravena sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi untuk memperoleh penanganan medis.
Namun, kondisi Sempurna terus menurun hingga akhirnya dinyatakan mati pada hari yang sama. Hasil nekropsi yang dilakukan pada 1 September menunjukkan perubahan patologis pada sejumlah organ vital, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelektasis parsial yang, berdasarkan riwayat kondisi klinis dan pemeriksaan, diduga berkaitan dengan paparan asap dan menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen dalam tubuh.
Baca juga: Kemenhut konfirmasi kematian orang utan Sempurna diduga akibat asap
Baca juga: Sebelum mati, Orangutan Sempurna ditemukan kritis di kebun sawit
Kisah Sempurna menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada manusia. Satwa liar yang hidup di sekitar kawasan terbakar juga harus menghadapi kualitas udara yang memburuk, kehilangan habitat, kekurangan makanan, hingga risiko gangguan kesehatan.
Asap karhutla bisa mengganggu pernapasan orangutan
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) menghabiskan sebagian besar kehidupannya di kawasan hutan. Mereka bergantung pada lingkungan tersebut untuk mendapatkan makanan, tempat berlindung, serta ruang untuk bergerak.
Ketika karhutla terjadi, pepohonan dan vegetasi yang menjadi bagian dari habitat mereka dapat terbakar. Namun, ada ancaman lain yang tidak selalu terlihat secara langsung, yakni asap.
Asap kebakaran membawa berbagai partikel dan gas yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Bagi orangutan yang berada di kawasan dengan asap pekat selama berhari-hari, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan menurunkan kemampuan tubuh memperoleh oksigen secara normal.
Kasus Sempurna menjadi salah satu gambaran mengenai persoalan tersebut. Sebelum meninggal, ia ditemukan dalam kondisi tidak mampu berdiri dan mengalami kesulitan bernapas. Tim medis bahkan memberikan bantuan oksigen sebagai bagian dari pertolongan awal.
Dengan kata lain, orangutan tidak harus terkena kobaran api secara langsung untuk mengalami dampak karhutla.
Mata dan saluran pernapasan ikut terdampak
Paparan asap dalam jumlah tinggi juga dapat membuat saluran pernapasan mengalami iritasi. Pada satwa, kondisi tersebut dapat terlihat dari perubahan perilaku maupun kondisi fisik, seperti kesulitan bernapas, lemas, atau tidak mampu melakukan aktivitas seperti biasanya.
Asap yang pekat juga dapat mengurangi jarak pandang di dalam habitat. Bagi orangutan yang terbiasa berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari makanan atau tempat berlindung, lingkungan yang dipenuhi asap tentu membuat aktivitas menjadi lebih sulit.
Jika kondisi berlangsung lama, satwa juga harus mengeluarkan energi lebih besar untuk mencari lokasi yang relatif aman.
Karena itu, dampak asap sebaiknya tidak dilihat hanya dari seberapa luas wilayah yang tertutup kabut asap. Durasi paparan dan tingkat kepekatan asap juga menjadi faktor penting dalam melihat risiko terhadap satwa.
Baca juga: BNPB lakukan modifikasi cuaca di Kalsel atasi karhutla
Orangutan bisa keluar dari habitatnya
Karhutla juga dapat memaksa orangutan meninggalkan kawasan hutan.
Ketika habitat terbakar atau asap membuat lingkungan tidak lagi layak, orangutan dapat bergerak menuju kawasan lain untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Tidak jarang, pergerakan tersebut membawa mereka ke perkebunan masyarakat.
Sempurna sendiri ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit milik warga setelah sebelumnya diduga bergeser dari habitatnya akibat kondisi karhutla. Warga kemudian melaporkan keberadaannya kepada petugas sehingga proses evakuasi dapat dilakukan.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dapat mengubah perilaku dan pola pergerakan satwa. Hutan yang seharusnya menjadi rumah justru berubah menjadi kawasan yang harus ditinggalkan.
Bukan cuma soal asap, makanan juga ikut hilang
Dampak karhutla terhadap orangutan tidak selesai ketika asap mulai menghilang.
Kebakaran dapat merusak pohon, tumbuhan bawah, serta berbagai vegetasi yang menjadi sumber makanan. Jika kawasan yang terbakar cukup luas, orangutan bisa mengalami kesulitan menemukan makanan dalam jumlah yang memadai.
Kondisi tersebut menjadi lebih rumit bagi induk yang membawa anak. Mereka bukan hanya harus mencari lokasi yang aman, tetapi juga memastikan kebutuhan makanan tetap terpenuhi.
Karena itu, pemulihan habitat setelah kebakaran menjadi bagian penting dalam perlindungan orangutan. Hutan membutuhkan waktu untuk kembali menyediakan kondisi yang mendukung kehidupan satwa.
Baca juga: BNPB terapkan suntik gambut untuk atasi karhutla di Kalbar
Ancaman konflik dengan manusia meningkat
Ketika habitat rusak dan sumber makanan berkurang, kemungkinan orangutan masuk ke wilayah perkebunan atau permukiman juga dapat meningkat.
Bagi masyarakat, kemunculan orangutan di kebun tentu dapat menimbulkan kekhawatiran. Namun, dari sudut pandang satwa, perpindahan tersebut dapat terjadi karena mereka sedang mencari tempat yang lebih aman dan sumber makanan setelah habitatnya terganggu.
Situasi seperti ini membutuhkan penanganan dari pihak yang memiliki keahlian. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan melaporkan keberadaan satwa kepada petugas konservasi, bukan mencoba menangkap atau menangani sendiri.
Sebelum kasus Sempurna, dampak karhutla di Ketapang juga membuat sejumlah orangutan harus dievakuasi. Pada 21 Agustus 2026, misalnya, tim gabungan BKSDA Kalbar, Balai Taman Nasional Gunung Palung, YIARI, dan masyarakat mengevakuasi induk orangutan bernama Mama Yuni bersama dua anaknya setelah kebakaran mengancam habitat dan memutus jalur pergerakan mereka.
Sempurna menjadi pengingat
Kematian Sempurna memperlihatkan bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang atau gangguan aktivitas sehari-hari. Bagi satwa liar, asap dapat menjadi bagian dari rangkaian ancaman yang lebih panjang.
Ada gangguan pernapasan, risiko kekurangan oksigen, hilangnya sumber makanan, rusaknya habitat, hingga kemungkinan meningkatnya konflik dengan manusia.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan satwa di kawasan terdampak, pemantauan kondisi kesehatan, evakuasi ketika diperlukan, serta pemulihan habitat juga menjadi bagian penting dari upaya penanganan.
Sempurna mungkin hanya satu dari banyak satwa yang terdampak karhutla di Kalimantan. Namun, kisahnya menjadi pengingat bahwa ketika hutan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada manusia yang menghirup asap.
Ada satwa yang kehilangan rumah, kehilangan sumber makanan, dan bahkan harus berjuang mendapatkan udara yang cukup untuk bertahan hidup.
Baca juga: Induk dan anak orang utan dievakuasi akibat karhutla meluas
Baca juga: Pakar: Warga perlu informasi indikator kualitas udara hadapi karhutla
Baca juga: Pakar: Upaya mitigasi dampak karhutla harus cermat dan hati-hati
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.