BPS catat ekspor Jatim Januari-Juli 2026 turun 5,33 persen - ANTARA News Jawa Timur
Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor Jawa Timur pada Januari-Juli 2026 sebesar 16,08 miliar dolar AS atau turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelaksana tugas Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati di Surabaya, Selasa, menyatakan nilai ekspor Jatim pada periode ini turun dari 16,99 miliar dolar AS menjadi 16,08 miliar dolar AS.
"Penurunan ini disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas yang sebesar 4,43 persen," katanya.
Ekspor nonmigas turun sebesar 4,43 persen yaitu dari 16,64 miliar dolar AS menjadi 15,90 miliar dolar AS sedangkan ekspor migas mengalami penurunan yang cukup tajam yakni 48,07 persen dari 349,45 juta dolar AS menjadi 181,47 juta dolar AS.
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah sebesar 65,54 persen dari 317,11 juta dolar AS menjadi 109,28 juta dolar AS.
Untuk nilai ekspor Jawa Timur pada Juli 2026 sendiri mencapai 2,65 miliar dolar AS yang juga turun sebesar 9,15 persen dibandingkan Juli 2025 lantaran ekspor nonmigas turun 7,94 persen dibandingkan Juli 2025 menjadi 2,64 miliar dolar AS.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari-Juli 2026, komoditas tembaga (HS 74) mengalami peningkatan nilai ekspor terbesar yaitu sebesar 39,51 persen menjadi 2.08 miliar dolar AS mayoritas dikirim ke Tiongkok dengan nilai 565,08 juta dolar AS.
Selanjutnya komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) juga naik 28,41 persen menjadi 1,67 miliar dolar AS; diikuti komoditas olahan ikan, krustasea, dan moluska (HS 16) yang naik 17,04 persen menjadi 503,70 juta dolar AS.
Komoditas HS 15 paling banyak diekspor ke Tiongkok dengan nilai mencapai 745,41 juta dolar AS sedangkan HS 16 paling banyak diekspor ke Amerika Serikat dengan nilai 251,14 juta dolar AS.
Sementara itu, penurunan terdalam terjadi pada komoditas perhiasan/permata (HS 71) sebesar 54,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 1,73 miliar dolar AS.
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.