BPBD Jakarta Beri 7 Langkah Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengimbau warga untuk waspada terhadap abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Sejumlah laporan masyarakat menunjukkan abu Gunung Anak Krakatau yang erupsi sejak Jumat (4/9) malam sudah tiba di sejumlah wilayah Jakarta pada Minggu (6/9). Berbagai rumah, kendaraan, serta udara di Jakarta tampak kini berselimutkan debu dan abu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Marulita, warga tidak perlu panik dalam menghadapi abu vulkanik yang kini turun mengguyur Jakarta. Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan dalam menghadapi guyuran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
1. Pakai masker
Pertama adalah menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Masker kain biasa kurang optimal untuk menyaring partikel abu vulkanik.
Masker N95 cukup populer dan kerap digunakan karena diyakini efektif mencegah partikel buruk akibat kebakaran dan atau abu vulkanik masuk ke dalam saluran pernafasan.
Meskipun begitu, seperti pada saat pandemi, masker N95 cenderung sulit ditemukan dan memang lebih diutamakan untuk dipakai oleh tenaga medis, tim penyelamat, atau mereka yang harus bekerja di luar ruangan dalam kondisi bencana.
Maka dari itu, untuk masyarakat awam, sebaiknya menggunakan masker jenis lain di bawah N95 yang lebih mudah ditemukan dan harganya juga lebih terjangkau dibanding N95, seperti surgery mask atau regular mask.
Selain itu, masker N95 sebaiknya tidak digunakan oleh anak, ibu hamil, seseorang dengan riwayat penyakit paru atau jantung, dan penduduk lanjut usia.
Hal itu karena masker N95 mampu memperketat daerah pernafasan sehingga seseorang akan mengalami kesulitan dalam bernafas akibat memiliki kemampuan menyaring debu yang kuat.
Masker N95 cukup populer dan kerap digunakan karena diyakini efektif mencegah partikel buruk akibat kebakaran dan atau abu vulkanik masuk ke dalam saluran pernafasan.
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/pd. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
2. Tutup akses udara rumah
Marulita menyebut langkah kedua adalah dengan menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah. Warga juga disarankan mematikan kipas atau pendingin ruangan yang menarik udara dari luar apabila kondisi udara di sekitar rumah terdampak abu.
3. Kurangi aktivitas di luar rumah
Ketiga, kata Marulita, adalah mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya bagi bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan asma, penyakit paru, atau penyakit jantung.
Ketiga, kata Marulita, adalah mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya bagi bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan asma, penyakit paru, atau penyakit jantung.
Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
4. Jangan sapu abu saat kering
Kemudian apabila terdapat abu di sekitar rumah, papar Marulita, warga diminta membasahinya terlebih dahulu sebelum membersihkan. Abu sebaiknya tidak disapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikelnya kembali beterbangan dan terhirup.
5. Tutup tampungan air
Kelima, menutup tempat penyimpanan air dan makanan. Air atau makanan yang terpapar abu vulkanik sebaiknya tidak dikonsumsi.
6. Segera ke faskes bila sesak napas
Keenam, untuk warga yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk terus-menerus, atau iritasi mata yang semakin parah diminta segera mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan.
7. Hubungi kontak darurat
Ketujuh, hubungi layanan Jakarta Siaga melalui nomor 112 untuk melaporkan keadaan darurat di wilayah DKI Jakarta.
Selain itu, Marulita mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi udara bisa dipantau dari PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, dan Pemprov DKI Jakarta.
(end)