Bolehkah Menulis Buku Ajar Menggunakan AI? Berikut Penjelasannya - Penerbit Deepublish

Dosen di Indonesia diketahui memiliki kewajiban melaksanakan tri dharma. Dalam pelaksanaan tugas akademik tersebut dosen akan menghasilkan berbagai publikasi ilmiah. Salah satunya buku ajar. Namun, bisakah dosen menyusun buku ajar menggunakan AI? 

Pertanyaan ini tentunya dimiliki oleh semua dosen yang mulai mempertimbangkan penggunaan AI dalam aktivitas akademik. Menggunakan AI oleh kalangan dosen dan mahasiswa harus menyesuaikan dengan regulasi dan etika akademik. Berikut informasinya. 

Bolehkah Dosen Menggunakan AI dalam Menulis Buku Ajar?

Buku ajar merupakan salah satu jenis buku ilmiah yang disusun dosen sebagai bentuk pengembangan bahan ajar. Berbeda dengan modul maupun diklat, buku ajar wajib diterbitkan ber-ISBN oleh kalangan dosen. 

Menunjang proses penulisan yang tentunya memakan waktu dan sumberdaya lainnya. Para dosen kerap memanfaatkan teknologi, dan tidak terkecuali pada teknologi AI (Artificial Intelligence—Kecerdasan Buatan). 

Memahami bahwa AI bisa membantu penulisan buku ajar secara utuh. Dalam artian bisa membantu menyusun bab per bab di dalamnya. Maka ada risiko kasus copy paste hasil respon AI ke dalam lembar kerja naskah buku ajar. 

Tindakan seperti ini yang perlu dihindari oleh dosen. Alasannya beragam. Pertama, respon AI dalam membantu penulisan naskah buku umumnya hasil mengkombinasikan beberapa publikasi ilmiah. Jika respon AI langsung disalin ke naskah buku ajar, rentan terindikasi plagiarisme. 

Kedua, secara etika penggunaan AI oleh kalangan dosen hanya sebatas alat bantu. Sehingga meminta AI menulis naskah buku ajar dari awal sampai akhir adalah bentuk pelanggaran etika yang tentu perlu dihindari oleh dosen. 

Jadi, bolehkah menggunakan AI untuk menyusun buku ajar? Secara umum, jawabannya adalah boleh selama mematuhi regulasi yang berlaku. Yakni menyesuaikan kebijakan Kemdiktisaintek terkait penggunaan AI, kebijakan perguruan tinggi dan fakultas yang menaungi dosen, serta kebijakan penerbit yang dituju oleh dosen. 

Etika dan Batasan Penggunaan AI untuk Menyusun Bahan Ajar

Menyusun buku ajar menggunakan AI tentunya perlu mengedepankan etika akademik hingga etika publikasi ilmiah. Etika tersebut secara mendasar perlu memperhatikan 3 hal untuk menghindari adanya pelanggaran oleh dosen. Yaitu: 

1. Menyesuaikan Regulasi Terkait Penggunaan AI 

Hal pertama yang perlu diperhatikan dosen adalah regulasi atau kebijakan yang mengatur penggunaan AI. Kemdiktisaintek sendiri dalam penerbitan Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen AI) pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Memperbolehkan penggunaan AI dalam pembelajaran. 

Panduan ini juga menjadi dasar acuan penggunaan AI dalam tri dharma lainnya, yakni penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PkM). Sehingga diperbolehkan dengan batasan yang jelas. Yakni difungsikan sebagai alat bantu dan ada pengakuan. 

Selain mengacu pada regulasi Kemdiktisaintek, dosen juga harus memperhatikan regulasi penggunaan AI yang ditetapkan internal perguruan tinggi tempatnya mengabdi. Apakah rektor atau pimpinan perguruan tinggi sudah menerbitkan SK mengenai aturan penggunaan AI? Jika sudah, maka dosen menyesuaikan isinya. 

Kemudian, regulasi dari penerbit. Publikasi ilmiah baik dalam bentuk prosiding, jurnal, dan penerbitan buku mengikuti kebijakan penerbit (publisher). Misalnya pada jurnal, ada banyak pengelola jurnal memperbolehkan penggunaan AI dengan ketentuan tambahan. Misalnya aturan pembatasan dan pengakuan. 

Begitu juga dengan penerbit buku ajar yang dituju dosen. Dosen perlu memastikan penerbit tersebut memperbolehkan penggunaan AI atau tidak. Konsultasikan dengan CS atau membaca panduan etika dan panduan penerbitan yang disediakan. Kemudian wajib mematuhi kebijakan penerbit tersebut. 

2. Memfungsikan AI sebagai Alat Bantu Bukan Pengganti 

Hal kedua, adalah terkait penggunaan AI yang diperbolehkan dengan batasan sampai mana saja. Secara umum, penggunaan AI oleh dosen dalam penulisan KTI dan publikasi ilmiah adalah sebagai alat bantu bukan pengganti. 

Platform AI yang cukup beragam bisa dimanfaatkan dosen untuk membantu menyusun buku ajar dan naskah KTI jenis lainnya. Hanya saja ada batasan, sehingga tidak copy paste respon platform AI tersebut karena justru menjadi pelanggaran etika. 

Dalam menyusun buku ajar menggunakan AI, dosen bisa memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan. Seperti mencari referensi ilmiah kredibel, memahami referensi yang digunakan, membantu menyusun kerangka buku yang sistematis, mengecek plagiarisme, dan sebagainya. Jadi, tidak untuk menyusun isi buku ajar tersebut. 

3. Ada Pengakuan atas Penggunaan AI 

Hal ketiga untuk diperhatikan agar tidak ada pelanggaran etika saat menyusun buku ajar menggunakan AI adalah ada pengakuan oleh dosen. Jadi, salah satu bentuk kepatuhan pada etika menulis buku dengan AI adalah mengakui hal tersebut. 

Dalam naskah, baik pada bagian isi maupun bagian lampiran dosen perlu mencantumkan pengakuan penggunaan AI. Mengenai pengakuan ada di bagian mana pada naskah buku ajar menyesuaikan regulasi penerbit dan pihak terkait lainnya. 

Selain itu, beberapa penerbit mungkin menetapkan batasan pengakuan penggunaan AI. Misalnya, jika platform AI hanya sebagai alat bantu dalam mencari referensi atau menyusun kerangka buku ajar. Maka pengakuan tidak diperlukan, sebab tidak mempengaruhi substansi naskah buku ajar. 

Namun, jika platform AI digunakan untuk melengkapi substansi buku ajar maka perlu ada pengakuan. Misalnya menggunakan AI untuk membuat visualisasi pada naskah buku ajar, baik itu ilustrasi hingga grafik. Maka artinya ada perubahan konten  atas penggunaan AI, sehingga perlu ada pengakuan. 

Memperhatikan 3 hal tersebut, maka akan menunjang pemanfaatan AI untuk dosen dalam menyusun naskah buku ajar. Jadi intinya adalah mengikuti regulasi atau kebijakan yang berlaku. Dosen perlu memastikan ada aturan dan panduan penggunaan AI dalam menulis dan menerbitkan buku ajar dari awal. 

Baca juga: Peraturan yang Mengatur Tentang Artificial Intelligence

Manfaat AI untuk Menyusun Buku Ajar

Penulisan buku ajar berbasis AI oleh kalangan dosen tentunya menjadi langkah yang menarik untuk dipertimbangkan. Selama memahami batasan penggunaan untuk mencegah pelanggaran etika akademik. Maka pemanfaatan AI bisa dilakukan oleh dosen.  

Terlebih, menyusun buku ajar menggunakan AI memang memberi cukup banyak manfaat bagi dosen. Diantaranya adalah: 

1. Membantu Mendapatkan Referensi yang Tepat 

Menulis buku ajar menggunakan bantuan AI bisa untuk membantu memudahkan pencarian hingga pemilihan referensi. Meskipun buku ajar disusun dosen berdasarkan RPS OBE. 

Namun, dalam menjelaskan materi di dalamnya tetap butuh informasi tambahan. Sehingga perlu  menggunakan sejumlah referensi. Mencari dan memilih referensi tidak selalu mudah. Sehingga dengan bantuan AI kendala tersebut bisa dihindari. 

Dosen bisa lebih cepat menemukan referensi yang relevan, kredibel, dan terbitan terkini. Sekaligus lebih cepat dalam menentukan referensi ana yang akan digunakan. Sebab ada banyak platform AI bisa membantu dosen memahami isi publikasi ilmiah. 

Sehingga dengan cepat bisa menilai apakah publikasi tersebut ideal dijadikan referensi atau sebaliknya. Beberapa platform AI untuk menemukan dan memilih referensi seperti Consensus, Elicit, SciSpace, dan lain sebagainya. 

2. Memudahkan Pembuatan Kerangka Buku Ajar 

Manfaat menulis buku ajar menggunakan AI berikutnya adalah dimudahkan dalam menyusun kerangka. Sehingga struktur penulisan naskah buku ajar lebih tepat sesuai ketentuan sistematika yang berlaku. 

Sekaligus memastikan tersusun sistematis atau runtut sesuai dengan alur logika keilmuan. Adanya kerangka yang jelas dan sudah tepat akan memudahkan proses penyusunan naskah. Sehingga terfokus pada setiap materi inti di setiap bab. 

Sekaligus mempercepat proses penulisan naskah tersebut. Sebab sebelum mulai mengembangkan setiap bab, dosen sudah menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan. Seperti referensi yang tepat, apa saja yang perlu dibahas, dll. 

3. Membantu Memperbaiki Gaya Bahasa dan Keterbacaan Naskah 

Penggunaan AI dalam menulis buku ajar juga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas naskahnya. Ada beberapa platform AI bisa digunakan dosen untuk memperbaiki keterbacaan naskah. 

Seperti mengecek plagiarisme, menambahkan sitasi otomatis, membuat halaman daftar pustaka otomatis, melakukan parafrase secara lebih efektif, dan sebagainya. Hal ini tentunya membuat kualitas naskah lebih baik sehingga enak dibaca sekaligus lebih mudah dipahami. 

4. Memudahkan Dosen dalam Memvisualisasikan Penjelasan 

Buku ajar yang baik tentunya tidak hanya berisi teks penjelasan materi pembelajaran. Akan tetapi juga dilengkapi dengan elemen visual yang membantu pembaca memahami penjelasan materi yang dipaparkan penulis. 

Dalam menulis buku ajar menggunakan AI, dosen bisa terbantu dalam menyediakan efek visual tersebut. Sebab ada banyak platform bisa digunakan untuk membuat grafik, tabel yang lebih menarik, ilustrasi, dan bentuk visualisasi lainnya. 

Jadi,  dengan AI pembuatan efek visual lebih mudah dan cepat. Sekaligus bisa dibuat lebih menarik dengan berbagai fitur yang disediakan platform AI yang digunakan. Hal ini akan menjadi nilai tambah pada naskah buku ajar. 

5. Mendukung Dosen Menjaga Orisinalitas Naskah dan Etika 

Menggunakan AI dalam menulis buku ajar sering dikaitkan dengan risiko plagiarisme. Namun, harus diakui ada banyak platform AI yang justru bisa membantu dosen menjaga orisinalitas naskah buku ajar. 

Misalnya aplikasi manajemen referensi berbasis teknologi AI seperti Mendeley dan Zotero. Keduanya membantu dosen melakukan sitasi pada kutipan dan menyusun halaman daftar pustaka secara otomatis sesuai gaya sitasi tertentu. 

Sehingga mencegah kesalahan dalam sitasi dan penulisan daftar pustaka. Sekaligus menghindari risiko ada referensi yang terlewat untuk dicantumkan di halaman daftar pustaka. 

Tak hanya itu, ada juga Turnitin yang bisa dimanfaatkan dosen untuk mengecek plagiarisme. Sehingga platform berbasis AI ini bisa membantu dosen meminimalkan indikasi plagiat pada naskah buku ajar. 

6. Memudahkan Proses Penerbitan Buku Ajar 

Manfaat lain dari menulis buku ajar menggunakan AI adalah memudahkan proses penerbitannya. Hal ini dapat terjadi karena platform AI memudahkan dosen menyusun buku ajar berkualitas dan orisinil. 

Sehingga lebih mudah menembus editorial penerbit buku yang ketat. Naskah buku bisa lebih mudah diterima dan segera naik ke proses cetak. Sehingga bisa segera terbit dan diklaim dosen dalam penyusunan LKD di laman SISTER. 

Baca juga: Rekomendasi Jasa Penerbitan Buku Ajar Profesional dan Berpengalaman

Tips Menggunakan AI untuk Menulis Buku Ajar

Membantu dosen memanfaatkan AI dalam menyusun buku ajar secara beretika. Maka bisa menerapkan beberapa tips di bawah ini: 

1. Memeriksa Regulasi Penggunaan AI dalam Menulis Buku Ajar 

Tips yang pertama dan yang utama adalah mengecek regulasi atau kebijakan penggunaan AI dalam menulis buku ajar. Sesuai penjelasan sebelumnya, regulasi ini mencakup yang ditetapkan perguruan tinggi tempat dosen mengabdi. 

Kemudian regulasi dari penerbit yang dituju dan regulasi dari Kemdiktisaintek atau kementerian lain yang menaungi perguruan tinggi tempat dosen mengabdi. Jika secara regulasi penggunaan AI diperbolehkan, barulah dosen menggunakan AI untuk menyusun buku ajar. Begitu juga sebaliknya. 

Hal ini penting untuk diperhatikan karena memang setiap institusi, lembaga, dan publisher (penerbit) memiliki kebijakan berbeda-beda. Selain mengatur boleh tidaknya menggunakan AI, juga mengatur batas penggunaan dan etika penggunaan AI tersebut. 

2. Memfungsikan AI dengan Batasan sebagai Alat Bantu 

Tips yang kedua, dosen perlu membiasakan diri hanya memfungsikan AI sebagai alat bantu. Sehingga AI tersebut tidak menggantikan posisi dosen sebagai pakar di bidang keilmuan dan penulis buku ajar. 

AI dikatakan sebagai pengganti, ketika naskah buku ajar dibantu penyusunannya secara utuh. Sehingga peran dosen mirip seperti operator yang menggunakan suatu aplikasi. Hal ini tentunya tidak diperbolehkan. 

AI tetap harus dijaga posisinya sebagai alat bantu. Sehingga setiap respon yang diberikan tetap harus diperiksa, diedit untuk penyesuaian data, dan sebagainya. Jadi, AI hanya memudahkan dosen dalam menulis buku ajar secara efektif serta efisien. 

3. Memeriksa Ulang Respon Platform AI 

Sesuai penjelasan di poin sebelumnya, respon platform AI yang digunakan untuk menulis buku ajar sebaiknya tidak dipakai apa adanya. Dosen wajib memeriksa respon tersebut, apakah memang benar sesuai data di referensi? 

Kemudian, mengecek ada plagiat atau tidak lewat Turnitin maupun aplikasi cek plagiat lainnya. Disusul dengan melakukan parafrase untuk optimasi keterbacaan isi naskah buku ajar. Sebab respon dari AI cenderung kaku dan aspek humanity rendah. 

Sekaligus untuk meminimalkan indikasi plagiat. Sebab harus diakui, respon AI untuk proses penulisan buku bisa jadi gabungan beberapa sumber. Sehingga tetap ada kemungkinan terdeteksi plagiat atau skor similarity-nya tinggi. Maka parafrase menjadi langkah yang sangat disarankan. 

4. Gunakan Platform AI yang Relevan dengan Kebutuhan 

Selain indikasi terjadi plagiat, salah satu risiko tinggi dari penggunaan AI adalah memunculkan efek ketergantungan. Efek ini bisa menjadi nyata jika dosen menggunakan AI terlalu sering dan berlebihan. 

Lalu, bagaimana solusi terbaiknya? Solusinya adalah memiliki kesadaran untuk menentukan kapan momen tepat menggunakan bantuan AI dan sebaliknya. Jadi, dosen harus punya sensitivitas tinggi untuk menyadari hal tersebut. Tujuannya agar tidak selalu menggunakan AI setiap kali membuka file naskah buku ajar. 

Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan memeriksa platform AI mana saja yang bisa digunakan untuk menulis buku ajar. Kemudian pahami bantuan apa saja yang bisa diberikan platform tersebut. 

Selama proses menulis, utamakan mengandalkan keterampilan yang dimiliki. Jika ada kesulitan, misalnya terkendala ide, perlu referensi tambahan secepatnya, butuh rekomendasi kalimat pembuka yang menarik, dan sejenisnya. Barulah membuka platform AI yang sudah dipilih. 

5. Melakukan Editing dan Penyuntingan Mandiri 

Tips berikutnya saat menulis buku ajar menggunakan AI adalah selalu menerapkan editing dan penyuntingan mandiri. Tujuannya untuk memeriksa kembali hasil penulisan di dalam file naskah. 

Selain untuk memperbaiki kesalahan, juga untuk memastikan validitas data (informasi) yang tercantum pada naskah. Pastikan juga pengakuan penggunaan AI sudah dilakukan dengan baik dan benar. 

6. Memilih Penerbit Buku Ajar Kredibel 

Tips lainnya adalah teliti dalam memilih penerbit untuk memastikan kredibel dan proses editorial berjalan baik. Tujuannya agar naskah diperiksa oleh editor profesional dan mengedepankan integritas. 

Pemeriksaan oleh ahlinya sangat penting untuk menyempurnakan naskah agar layak terbit. Sekaligus menghindari indikasi plagiat sampai pelanggaran etika karena menggunakan platform AI dan sebab lainnya. 

Menulis buku ajar menggunakan AI memang bisa membantu dosen meningkatkan efisiensi sumberdaya. Sehingga buku ajar bisa dioptimalkan kualitasnya dan mempercepat penerbitan agar bisa segera diklaim dalam LKD. Namun, penulisan buku ajar berbasis AI harus sesuai regulasi untuk menghindari pelanggaran etika dan sanksi akademik. 

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah dosen boleh menggunakan AI untuk menulis buku ajar?

Ya, dosen boleh menggunakan AI sebagai alat bantu dalam proses penyusunan buku ajar selama mengikuti regulasi yang berlaku, baik dari Kemdiktisaintek, perguruan tinggi, maupun penerbit. AI tidak boleh menggantikan peran dosen sebagai penulis utama.

2. Apakah AI boleh digunakan untuk membuat seluruh isi buku ajar?

Tidak. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan untuk menghasilkan seluruh isi buku ajar secara otomatis. Dosen tetap harus menyusun, memeriksa, mengembangkan, dan memastikan isi naskah sesuai dengan keilmuan yang dikuasai.

3. Bagaimana batas penggunaan AI dalam penyusunan buku ajar dosen?

AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung proses penulisan, seperti mencari referensi, menyusun kerangka, memperbaiki bahasa, dan membuat visualisasi. Namun, AI tidak boleh menggantikan peran dosen dalam menghasilkan substansi utama buku ajar.

4. Mengapa dosen perlu memperhatikan etika saat menggunakan AI untuk menulis buku ajar?

Penggunaan AI tanpa memperhatikan etika dapat menimbulkan risiko seperti plagiarisme, kesalahan informasi, dan berkurangnya orisinalitas karya. Oleh karena itu, dosen perlu memastikan penggunaan AI tetap sesuai regulasi akademik dan kebijakan penerbit.

5. Bagaimana cara menggunakan AI secara etis dalam menulis buku ajar?

Dosen dapat memanfaatkan AI untuk membantu mencari referensi, menyusun kerangka buku, memperbaiki bahasa, membuat visualisasi, atau membantu pengecekan naskah. Namun, hasil dari AI tetap perlu diverifikasi dan dikembangkan oleh dosen.

6. Kapan waktu yang tepat bagi dosen menggunakan bantuan AI dalam menulis buku ajar?

AI dapat digunakan ketika dosen membutuhkan dukungan dalam proses penulisan, seperti mencari ide, menemukan referensi, membuat rancangan struktur buku, atau memperbaiki keterbacaan naskah. Penggunaan AI tetap perlu disertai evaluasi dari penulis.

7. Bagaimana cara menjaga orisinalitas buku ajar yang dibuat dengan bantuan AI?

Dosen perlu melakukan pemeriksaan ulang terhadap hasil AI, melakukan parafrase, memastikan sumber referensi tercantum dengan benar, serta menggunakan aplikasi pengecekan plagiarisme sebelum naskah diterbitkan.

Referensi:

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2024). Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen AI) pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. https://simbelmawa.kemdiktisaintek.go.id/portal/wp-content/uploads/2026/03/Buku-Panduan-_-Penggunaan-Generative-AI-pada-Pembelajaran-di-Perguruan-Tinggi-cetak.pdf
  2. Rohmatulloh. (2025). Kontroversi penulis dan ‘reviewer’ AI dalam penerbitan karya ilmiah. Diakses pada 29 Juli 2026 dari https://theconversation.com/kontroversi-penulis-dan-reviewer-ai-dalam-penerbitan-karya-ilmiah-270166
  3. Pekanlit 2024: Bolehkah Gunakan AI dalam Penulisan Buku dan Luaran Penelitian? (2024). UPN Veteran Jakarta. Diakses pada 29 Juli 2026 dari https://www.upnvj.ac.id/id/berita/2024/08/pekanlit-2024-bolehkah-gunakan-ai-dalam-penulisan-buku-dan-luaran-penelitian.html
  4. Darmansyah, S. (2025). Bagaimana AI Membantu Dosen Menyusun Buku Ajar Berkualitas Tinggi. Diakses pada 29 Juli 2026 dari https://pusdastra.uma.ac.id/2025/09/22/bagaimana-ai-membantu-dosen-menyusun-buku-ajar-berkualitas-tinggi/
  5. Pujiati. (2024). Cara Kerja AI dan Penggunaan yang Etis dalam Menulis. Diakses pada 29 Juli 2026 dari https://penerbitdeepublish.com/panduan-menulis/cara-kerja-ai/
  6. Rakhmatullah, H. A. (2025). Semakin Mudah, Ini Cara Membuat Buku dengan Bantuan AI. Diakses pada 29 Juli 2026 dari https://ebizmark.id/artikel/semakin-mudah-ini-cara-membuat-buku-dengan-bantuan-ai/?srsltid=AfmBOopYXz2nA7UkP_n5CHMjWVWaArhuSL6g3wUZUIv0_LZHz5_zbrC6