BI Targetkan Pengelolaan Limbah Uang Ramah Lingkungan pada 2030 - Keuangan Katadata.co.id
Bank Indonesia (BI) menargetkan pengolahan limbah uang kertas yang lebih ramah lingkungan diterapkan di seluruh satuan kerja kas pada 2030. Target ini bagian dari program Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) Berkelanjutan dalam Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah 2024-2030.
Pengelolaan limbah uang menjadi salah satu pembahasan dalam Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 yang dibuka di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8). Acara ini berlangsung pada 14-16 Agustus 2026.
Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali mengatakan, sampai dengan 2026, PUR Berkelanjutan berjalan pada 32 dari 46 satuan kerja kas di kantor pusat dan kantor perwakilan BI (KPwBI). Jumlah ini setara 70 persen dari total.
“Rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga menjadi instrumen strategis yang menggerakkan perekonomian, menghadirkan kesejahteraan, serta menjaga persatuan dan kedaulatan NKRI,” tuturnya dalam FERBI 2026, Jakarta, Jumat (14/8).
Peran strategis tersebut menjadikan seluruh siklus pengelolaan rupiah sebagai sorotan, termasuk dari sisi keberlanjutannya. Oleh karena itu, BI memanfaatkan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) dalam Program PUR Berkelanjutan.
LRUK berasal dari sisa pemusnahan uang tidak layak edar. Agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Limbah ini diolah menjadi energi melalui skema waste to energy (WtE) atau menjadi produk baru melalui waste to product (WtP).
Cara tersebut dapat menekan emisi karbon dibandingkan dengan metode pembuangan konvensional sekaligus menghindari sebagian biaya pengolahan limbah.
Atas upaya ini, BI meraih penghargaan Best New Environmental Sustainability Project dari International Association of Currency Affairs (IACA). Asosiasi ini menaungi 77 anggota yang terdiri dari bank sentral, otoritas, lembaga penegak hukum, hingga pelaku industri bahan uang di seluruh dunia.
Program Rupiah Waste to Worth Collaboration dinilai unggul dalam tiga aspek, yakni kolaborasi lintas pemangku kepentingan, kepemimpinan kelembagaan, dan implementasi nyata WtE/WtP.
Selain pemanfaatan LRUK, BI juga berupaya memperpanjang masa edar uang. Bank sentral menerapkan lapisan pelindung atau coating pada uang kertas emisi 2022 agar lebih tahan lama selama berada dalam peredaran.
Ricky menegaskan, pengelolaan rupiah sebetulnya mencakup seluruh siklus uang. Mulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, dan pengedaran hingga pencabutan, penarikan, hingga pemusnahan. Tahapan ini diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
“Yang pasti, menjaga rupiah bukan hanya tugas Bank Indonesia. Ini adalah kerja bersama untuk menjaga kepercayaan, persatuan, dan kedaulatan Indonesia,” ujarnya.
Uang Tunai Tetap Dibutuhkan
Di sisi lain, terkait peningkatan transaksi digital, BI menilai uang kartal tetap dibutuhkan, terutama di wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau infrastruktur digital. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau serta tingkat literasi digital yang beragam menjadi salah satu pertimbangan.
"Digitalisasi dan uang tunai bukanlah saling menggantikan, tapi komplementer, saling melengkapi," tutur Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Anwar Bashori ditemui dalam kesempatan yang sama.
Berdasarkan data internal BI, uang tunai menyumbang sekitar 20 persen dari total uang beredar, sedangkan sisanya berbentuk simpanan nontunai. Lebih dari separuh penduduk Indonesia masih mengandalkan transaksi tunai dalam keseharian.
Selain itu, dalam FERBI tahun ini, BI juga memperkenalkan BRIDGE. Ini merupakan forum dialog yang mempertemukan bank sentral, pelaku dan asosiasi industri pengelolaan uang rupiah, serta para ahli dari dalam dan luar negeri.
Forum tersebut membahas desain uang, strategi pemberantasan uang palsu, modernisasi dan digitalisasi infrastruktur, serta inovasi pengelolaan uang. FERBI juga memuat rangkaian diskusi dan pameran mengenai perjalanan rupiah, literasi keuangan, serta teknologi dan infrastruktur pengelolaan uang.
Melalui FERBI, bank sentral mengajak masyarakat untuk mengenal perjalanan rupiah, memahami pentingnya menjaga kualitas dan integritas rupiah, serta melihat berbagai inovasi dalam pengelolaan uang rupiah yang modern dan berkelanjutan.
Rangkaian talkshow dalam FERBI 2026 mengangkat sejumlah tema, mulai dari perjalanan rupiah dalam mendukung kedaulatan bangsa hingga penerapan manajemen uang yang ramah lingkungan sebagai bagian dari pengelolaan rupiah berkelanjutan.
Talkshow juga membahas peran literasi rupiah dalam membangun masyarakat yang sehat, cerdas secara finansial, dan berdaya.
Selain itu, pengunjung dapat melihat Pameran Rupiah yang menghadirkan perjalanan pengelolaan uang rupiah sekaligus perkembangan teknologi dan infrastruktur di bidang ini.
BI mengajak masyarakat untuk terus mencintai rupiah dengan merawatnya, bangga menggunakannya sebagai simbol kedaulatan, serta memahami penggunaannya secara bijak untuk mendukung perekonomian nasional.