BI Rate Diprediksi Segera Capai Puncak, CIMB Soroti Obligasi sebagai Pilihan Investasi yang Menarik

Mengapa BI Rate yang Mendekati Puncak Bisa Jadi Momentum Investasi Obligasi?

Investasi obligasi menjadi menarik ketika suku bunga berada di level tinggi tetapi ruang kenaikannya mulai terbatas. Kondisi ini memungkinkan investor memperoleh yield yang relatif tinggi sekaligus membuka peluang mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga obligasi apabila suku bunga nantinya turun.

Lanjar menilai kondisi suku bunga Indonesia saat ini mulai memasuki fase tersebut.

Suku bunga sudah mulai mendekati puncak,” kata Lanjar dalam acara Kelas Jurnalisme Inspiratif: Smart Investing, Smarter Reporting sebagai rangkaian acara Wealth XPO CIMB Niaga di Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2026.

Menurut dia, BI Rate masih memiliki kemungkinan naik satu kali. Namun, setelah itu terdapat peluang suku bunga memasuki fase yang lebih stabil.

Kondisi tersebut penting bagi investor obligasi. Pasalnya, harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. Ketika suku bunga naik, yield obligasi cenderung meningkat dan harga obligasi yang sudah beredar dapat turun.

Sebaliknya, ketika pasar mulai memperkirakan suku bunga berhenti naik atau mulai turun, harga obligasi berpotensi mengalami pemulihan.

Dengan demikian, investor yang baru masuk ke pasar obligasi ketika yield masih tinggi berpotensi memperoleh posisi yang lebih menarik dibandingkan investor yang baru membeli setelah suku bunga benar-benar turun.

Apa Hubungan BI Rate dengan Harga dan Yield Obligasi?

Hubungan antara BI Rate dan obligasi menjadi bagian penting yang perlu dipahami investor pemula.

Secara sederhana, mekanismenya dapat digambarkan sebagai berikut:

BI Rate naik → yield obligasi naik → harga obligasi turun.

Sebaliknya:

Ekspektasi suku bunga turun → yield obligasi turun → harga obligasi berpotensi naik.

Itulah sebabnya kenaikan suku bunga tidak selalu berarti kabar buruk bagi semua investor obligasi.

Investor yang sudah memiliki obligasi memang dapat melihat nilai pasar investasinya turun ketika suku bunga meningkat. Namun, investor baru justru mendapatkan kesempatan membeli obligasi dengan harga yang lebih rendah dan yield yang lebih tinggi.

Lanjar menggambarkan situasi tersebut sebagai momentum untuk mengunci imbal hasil.

Di saat imbal hasil naik tinggi-tingginya, harga obligasi turun, itulah timing yang tepat untuk kita lock imbal hasil di obligasi,” ujarnya.

Meski demikian, timing tersebut bukan berarti investor dapat memastikan kapan titik terendah harga obligasi. Pergerakan pasar tetap dipengaruhi oleh inflasi, nilai tukar, kebijakan bank sentral, kondisi fiskal, serta sentimen global.

Berapa Yield Obligasi yang Masih Menarik?

Dalam paparannya, Lanjar menyebut imbal hasil sejumlah obligasi masih berada pada level yang relatif menarik.

Untuk obligasi pemerintah FR100, misalnya, yield to maturity disebut masih berada di sekitar 7%-7,1%, tergantung harga penawaran ketika investor melakukan pembelian.

Sementara itu, obligasi dengan tenor sekitar lima tahun disebut masih menawarkan yield sekitar 6,7%-6,8%.

Angka tersebut penting bukan semata-mata karena terlihat tinggi. Investor perlu melihatnya dalam konteks arah suku bunga.

Jika investor membeli ketika yield sudah tinggi dan kemudian suku bunga turun, terdapat dua sumber potensi imbal hasil yang perlu dibedakan: kupon yang diterima selama memegang obligasi dan potensi kenaikan harga obligasi.

Namun, yield to maturity bukan berarti investor pasti memperoleh keuntungan sebesar angka tersebut dalam setiap kondisi. Hasil aktual tetap bergantung pada harga pembelian, waktu kepemilikan, pembayaran kupon, serta apakah obligasi dijual sebelum jatuh tempo.

Apa Itu Strategi Lock In Yield?

Lock in yield berarti investor berusaha mengunci tingkat imbal hasil ketika yield berada pada level yang dianggap menarik.

Strategi ini menjadi relevan ketika suku bunga sudah mendekati puncak.

Bayangkan seorang investor menunggu suku bunga turun terlebih dahulu sebelum membeli obligasi. Ketika suku bunga benar-benar turun, harga obligasi dapat meningkat. Akibatnya, investor tersebut mungkin harus membeli pada harga yang lebih mahal dengan yield yang lebih rendah.

Sebaliknya, investor yang masuk ketika yield masih tinggi berpeluang mengunci tingkat imbal hasil lebih besar.

Inilah paradoks pasar obligasi: kondisi yang terlihat buruk bagi pemegang obligasi lama dapat menjadi peluang bagi investor baru.

Namun, strategi ini memiliki risiko. Jika perkiraan mengenai puncak suku bunga ternyata keliru dan BI Rate kembali naik lebih tinggi, harga obligasi masih dapat mengalami tekanan.

Karena itu, “mendekati puncak” sebaiknya dipahami sebagai ekspektasi, bukan kepastian.

Kondisi Ekonomi Indonesia Masih Melambat, tetapi Belum Mengarah ke Krisis

Pandangan terhadap obligasi tersebut tidak berdiri sendiri. Lanjar terlebih dahulu melihat kondisi makroekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua disebut berada di 5,29%. Angka tersebut masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi yang selama ini berada di sekitar 5%.

Namun, CIMB melihat adanya potensi perlambatan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi ditempatkan di sekitar 4,9%, sejalan dengan konsensus Bloomberg yang disebut Lanjar dalam paparannya.

Artinya, ekonomi Indonesia memang menghadapi perlambatan, tetapi belum menunjukkan skenario penurunan tajam.

Perlambatannya enggak langsung drop sampai 3% ataupun minus. Masih kisaran 5% kalau dibulatkan,” ujar Lanjar.

Di sisi lain, inflasi kuartal kedua disebut berada di 2,88%. Rendahnya inflasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat ruang kebijakan moneter ke depan perlu diperhatikan.

Lanjar juga melihat adanya potensi kenaikan inflasi hingga akhir tahun, terutama akibat faktor eksternal seperti geopolitik dan tekanan terhadap rupiah.

Rupiah Masih Volatil, Investor Perlu Diversifikasi

Selain suku bunga, investor juga perlu memperhatikan nilai tukar.

Lanjar menilai rupiah masih menghadapi volatilitas akibat faktor eksternal dan potensi capital outflow. Ketika modal asing keluar dari pasar domestik, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat.

Karena itu, ia menyarankan investor mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen yang tidak seluruhnya berdenominasi rupiah.

Contohnya adalah reksa dana global, reksa dana syariah global, atau reksa dana pendapatan tetap berdenominasi dolar AS.

Strategi tersebut bukan berarti investor harus meninggalkan aset rupiah. Diversifikasi justru bertujuan menghindari ketergantungan terhadap satu sumber risiko.

Bagi investor dengan seluruh portofolio dalam rupiah, pelemahan nilai tukar dapat menjadi risiko tersendiri. Sebaliknya, memiliki sebagian aset dalam mata uang atau pasar berbeda dapat menjadi salah satu bentuk mitigasi.

Bagaimana Posisi Obligasi Dibandingkan Saham, Pasar Uang, dan Emas?

Dalam paparan Lanjar, setiap instrumen memiliki prospek berbeda.

Instrumen

Pandangan

Pasar uang

Underweight

Obligasi

Overweight

Saham

Netral

Emas

Netral

Pasar uang seperti deposito dan reksa dana pasar uang memiliki volatilitas relatif rendah. Namun, ketika suku bunga mulai mendekati puncak, potensi kenaikan return instrumen tersebut juga menjadi lebih terbatas.

Obligasi justru dinilai overweight karena yield masih tinggi dan terdapat peluang suku bunga mulai melandai.

Untuk saham, Lanjar mengambil posisi netral. Salah satu pertimbangannya adalah tingginya biaya pendanaan bagi perusahaan ketika suku bunga berada di level tinggi.

Kalau suku bunga tinggi, biaya untuk mendapatkan dana segarnya akan mahal,” kata Lanjar.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan cost of fund emiten dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap valuasi saham, terutama bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan utang besar.

Sementara emas tetap memiliki fungsi sebagai safe haven. Namun, CIMB melihat emas secara netral karena kenaikan harga yang sebelumnya tinggi mulai menghadapi keterbatasan dari sisi imbal hasil.

Investor Obligasi Lama dan Investor Baru Menghadapi Situasi Berbeda

Salah satu insight penting dari paparan Lanjar adalah perbedaan posisi antara investor yang sudah memiliki obligasi dan investor yang baru hendak masuk.

Investor lama dapat melihat harga obligasinya turun ketika suku bunga naik. Kondisi tersebut dapat terasa seperti kerugian apabila portofolio dilihat berdasarkan nilai pasar harian.

Namun, penurunan harga tersebut menciptakan kondisi berbeda bagi investor baru.

Investor yang sudah memiliki obligasi

Investor yang baru masuk

Perbedaan ini menjelaskan mengapa Lanjar melihat periode suku bunga tinggi sebagai kesempatan untuk melakukan lock in yield.

Baca Juga: CIMB Niaga Siap Lunasi Surat Utang Rp75 Miliar

Baca Juga: OJK: Spin Off UUS BTN dan CIMB Niaga Sesuai Rencana

Jangan Hanya Mengejar Yield Tinggi

Meski yield menjadi salah satu daya tarik utama obligasi, investor tidak boleh berhenti pada angka tersebut.

Ada beberapa faktor yang perlu diperiksa:

Dengan kata lain, yield tinggi tidak otomatis berarti investasi tersebut cocok bagi semua orang.

Bagaimana Jika Investor Tidak Ingin Menebak Timing Pasar?

Investor yang kesulitan menentukan waktu masuk dapat menggunakan pendekatan investasi berkala dan diversifikasi.

Lanjar memberikan ilustrasi mengenai investasi reksa dana sebesar Rp12 juta. Dalam simulasi tersebut, investasi sekaligus pada awal periode menghasilkan pertumbuhan sekitar 23,58%.

Sementara itu, investasi secara berkala menggunakan konsep dollar cost averaging atau DCA dalam ilustrasi yang disampaikan menghasilkan sekitar 26%.

Angka tersebut merupakan simulasi, bukan jaminan bahwa DCA akan selalu menghasilkan return lebih tinggi daripada investasi sekaligus.

Keuntungan utama investasi berkala adalah mengurangi ketergantungan terhadap kemampuan investor menebak titik terbaik pasar.

Strategi tersebut juga membantu membentuk kebiasaan investasi yang konsisten.

Diversifikasi Tetap Penting meski Obligasi Jadi Pilihan

Obligasi yang dinilai menarik tidak berarti seluruh portofolio harus dipindahkan ke obligasi.

Lanjar menunjukkan bagaimana diversifikasi dapat membantu mengurangi risiko.

Dalam ilustrasi yang dipaparkan, investasi pada satu saham perbankan mengalami penurunan sekitar 23% dalam satu tahun. Sementara portofolio reksa dana yang lebih terdiversifikasi mengalami penurunan sekitar 9,94%.

Perbedaannya menunjukkan satu prinsip penting: diversifikasi tidak menghilangkan kerugian, tetapi dapat mengurangi ketergantungan investor terhadap kinerja satu aset.

Prinsip ini juga berlaku ketika investor memilih obligasi. Portofolio dapat disusun berdasarkan kombinasi tenor, jenis obligasi, dan instrumen lain sesuai profil risiko.

Jadi, Apakah Sekarang Waktu yang Tepat untuk Investasi Obligasi?

Berdasarkan pandangan Lanjar, kondisi saat ini cukup menarik untuk mengakumulasi obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi.

Alasannya adalah kombinasi antara yield yang masih tinggi, harga obligasi yang telah mengalami tekanan, serta ekspektasi bahwa kenaikan BI Rate mulai mendekati akhir siklusnya.

Sekarang itu waktu yang tepat untuk kita akumulasi obligasi pemerintah ataupun obligasi korporasi. Karena harga obligasinya sudah turun signifikan, yield obligasinya itu sudah naik, sedangkan BI Rate diekspektasi hanya satu kali lagi kenaikan,” ujar Lanjar.

Namun, peluang tersebut tetap harus dibaca bersama risikonya. Investor yang masuk terlalu cepat masih dapat menghadapi penurunan harga apabila suku bunga kembali naik atau sentimen global memburuk.

Sebaliknya, terlalu lama menunggu juga memiliki konsekuensi. Jika suku bunga mulai turun lebih cepat dari perkiraan, yield obligasi dapat ikut turun dan harga obligasi berpotensi sudah lebih dahulu naik.

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar “beli atau tidak beli obligasi”, melainkan bagaimana investor menentukan tenor, harga pembelian, ukuran investasi, dan komposisi portofolio sesuai tujuan keuangan.

Lanjar menekankan bahwa investasi seharusnya tidak dibangun dengan mentalitas mengejar kekayaan secara instan.

Kekayaan itu tidak dibangun dalam semalam, ya, karena dari fluktuasi harga itu enggak,” katanya.

Menurut dia, kekayaan justru perlu dibangun melalui konsistensi, diversifikasi, dan disiplin.

Kekayaan itu bisa dibangun dan dirawat perlahan melalui konsistensi waktu, diversifikasi yang terukur, dan eksekusi yang disiplin,” ujar Lanjar.

Bagi investor muda, pesan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah pasar yang bergerak cepat dan budaya mengejar cuan instan, kemampuan menunggu justru dapat menjadi bagian penting dari strategi investasi.

Baca Juga: Beasiswa CIMB Niaga 2026 Dibuka, Cek Syarat, Jadwal Seleksi, dan Cara Daftarnya

Baca Juga: Sun Life dan CIMB Niaga Luncurkan X-Tra Plan Protection: Perlindungan Jiwa Plus Manfaat Finansial Jangka Panjang

FAQ

Apa pengaruh BI Rate terhadap harga obligasi?

BI Rate memiliki pengaruh terhadap tingkat yield dan harga obligasi. Ketika suku bunga naik, yield obligasi cenderung meningkat sehingga harga obligasi yang sudah beredar dapat turun. Sebaliknya, ketika suku bunga mulai turun atau ekspektasi penurunan terbentuk, yield dapat menurun dan harga obligasi berpotensi naik.

Mengapa obligasi menarik ketika suku bunga mendekati puncak?

Obligasi dapat menjadi menarik ketika suku bunga mendekati puncak karena yield masih berada di level relatif tinggi, sementara ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas. Investor berpotensi mengunci yield sebelum suku bunga turun. Jika suku bunga kemudian turun, harga obligasi juga berpotensi mengalami kenaikan.

Apa itu strategi lock in yield?

Lock in yield adalah strategi memperoleh dan mempertahankan tingkat imbal hasil tertentu dengan membeli obligasi ketika yield berada pada level yang dianggap menarik. Strategi ini sering menjadi perhatian ketika suku bunga diperkirakan mendekati puncak, meskipun tetap terdapat risiko jika arah suku bunga ternyata berbeda dari perkiraan.

Apakah investasi obligasi bebas risiko?

Tidak. Obligasi tetap memiliki risiko, termasuk risiko perubahan suku bunga, risiko harga, risiko likuiditas, dan untuk obligasi korporasi terdapat risiko kredit penerbit. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan profil risiko, tenor, kualitas penerbit, harga pembelian, dan tujuan investasinya.

Apakah obligasi lebih menarik daripada saham saat suku bunga tinggi?

Dalam paparan Lanjar, obligasi dinilai overweight sementara saham berada pada posisi netral. Salah satu alasannya adalah yield obligasi masih menarik, sedangkan suku bunga tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan menekan valuasi saham. Namun, pilihan investasi tetap bergantung pada profil risiko dan tujuan masing-masing investor.

Apa bedanya obligasi dengan deposito?

Deposito umumnya memiliki volatilitas yang lebih rendah dan tingkat imbal hasil yang lebih terbatas. Obligasi memiliki harga pasar yang dapat naik dan turun sebelum jatuh tempo. Ketika suku bunga berubah, harga obligasi dapat mengalami fluktuasi, sehingga risikonya berbeda dari deposito.

Apakah sekarang waktu yang tepat membeli obligasi?

Menurut pandangan Lanjar, kondisi saat ini menarik untuk mengakumulasi obligasi karena yield masih tinggi dan BI Rate diperkirakan mendekati puncak. Namun, hal tersebut merupakan pandangan pasar, bukan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu mempertimbangkan harga pembelian, tenor, risiko suku bunga, likuiditas, dan profil risikonya.