Belanja Santri Berpotensi Capai Rp68 Triliun per Tahun |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perbelanjaan sekitar 4,3 juta santri di Indonesia berpotensi menciptakan perputaran ekonomi hingga Rp68 triliun per tahun. Potensi tersebut berasal dari kebutuhan konsumsi santri yang diperkirakan mencapai Rp750 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.
Sekretaris Dewan Penasihat IAEI Prof Fasli Jalal mengatakan, ekosistem pendidikan Islam tidak hanya berperan dalam pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, tetapi juga memiliki aktivitas ekonomi yang besar.
“Bayangkan ada jutaan santri dengan kebutuhan makan, pakaian, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari. Kalau belanjanya bisa dihubungkan dengan produksi masyarakat sekitar dan jaringan pesantren, maka uang tersebut tidak hanya menjadi konsumsi, tetapi dapat menciptakan rantai nilai,” ujar Fasli dalam Mudzakarah Nasional dan Forum Diskusi Dewan Pakar IAEI di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Dia memperkirakan, dengan jumlah sekitar 4,3 juta santri dan kebutuhan belanja Rp750 ribu-Rp1,5 juta per bulan, potensi perputaran belanja mencapai sekitar Rp34 triliun-Rp68 triliun per tahun.
Menurut Fasli, potensi tersebut dapat diperkuat dengan menghubungkan kebutuhan pesantren dengan produksi masyarakat di sekitarnya. Pesantren juga dapat dikembangkan menjadi simpul rantai nilai halal dengan memiliki spesialisasi produksi sesuai potensi wilayah.
“Setiap pesantren atau kelompok pesantren dapat memiliki spesialisasi produksi sesuai potensi wilayah, misalnya beras, telur, ikan, peternakan, atau produk pangan lainnya,”kata dia.
Fasli menilai peluang tersebut juga dapat dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pengadaan pangan dalam skala besar.
Dia mendorong IAEI mengambil peran sebagai penghubung antara ekosistem pendidikan Islam, pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, dan masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan lembaga pendidikan Islam dapat dipertemukan dengan potensi produksi masyarakat, pembiayaan syariah, dan pasar.