Beda Bullying dan Ejekan: Kenali Ciri, Cara Mengatasi dan Pencegahannya pada Anak Muda - ANTARA News Jawa Barat
Bandung (ANTARA) - Bullying atau perundungan di kalangan anak muda, masih kerap terjadi dengan berbagai macam pemicu sehingga permasalahan ini memerlukan perhatian lebih sebagai upaya penanganan serta pencegahannya agar tidak terulang kembali.
Menurut Dokter Ukuh dalam laman berita Kementerian Kesehatan (2024), penyebab terjadinya bullying karena kurangnya rasa percaya diri serta ketidaktahuan atas kesalahan dari tindakan yang dilakukan.
Maka kenalilah terlebih dahulu tindakan seperti apa yang termasuk perilaku bullying, sebab masih banyak anak muda yang tidak dapat membedakan bullying dengan ejekan atau candaan.
Berdasarkan artikel Halodoc, terdapat perbedaan antara tindakan bullying dan ejekan yang dapat anda cermati, sebagai berikut:
Bullying
Tindakan bullying sering kali menunjukan suatu kekuasaan yang dapat memicu tindakan kekerasan dalam bentuk tindakan fisik, sosial, verbal, hingga cyber.
Pelaku akan ancaman dan intimidasi agar korban patuh serta dilakukan secara berulang.
Tindakan bullying dapat berdampak pada fisik dan psikologis korbannya.
Ejekan
Ejekan atau candaan sering kali ditujukan sebagai bahan kesenangan semata.
Bentuk tindakannya dilakukan secara verbal, dengan meniru untuk tujuan mengejek tanpa intimidasi dan tidak dilakukan berulang-ulang.
Kedua tindakan ini bagaikan pisau bermata dua, apabila tidak dimengerti dengan benar sebab ejekan yang berlebihan juga dapat merujuk pada tindakan bullying, jika korban sampai terdampak akibat tindakan tersebut.
Maka diperlukan upaya untuk mencegah serta mengatasi tindakan bullying. Dilansir dari artikel Halodoc, terdapat berbagai macam cara penanganan dan pencegahan perundungan, sebagai berikut:
Cara Mengatasi Bullying
- Pihak berwenang wajib menangani dan menyelesaikan kejadian tersebut secara cepat dan serius.
- Mendampingi dan menghargai korban karena telah melapor.
- Yakinkan korban bahwa tindakan yang ia terima bukanlah akibat dari kesalahannya.
Tunjukkan rasa empati
- Bantu korban agar mampu membela dirinya sendiri.
- Tawarkan pada anak tentang untuk membuatnya merasa aman.
- Bicara kepada setiap anak yang terlibat dalam tindakan bullying secara terpisah. Sebisa mungkin jangan menyalahkan, mengkritik, atau meneriakinya di depan wajah mereka. Dorong mereka untuk jujur dan hargai kejujurannya.
- Ambil tindakan tegas untuk pelaku bullying. Beritahu anak tersebut, orang tuanya, dan kelas terkait perkembangan kasusnya.
- Tindak lanjuti pelaku mengenai kemajuan yang dibuat sesudahnya.
- Jangan ragu untuk meminta bantuan pihak eksternal apabila dampaknya sangat signifikan.
Cara Pencegahan Bullying
Hadirnya peran orang tua bagi anak, kehadiran sosok orang tua sangat mempengaruhi bagaimana anak berinteraksi dan bertindak di lingkungan sekitarnya.
Anak akan lebih terbuka untuk bercerita mengenai apa yang dialaminya dan anak juga jadi tahu bagaimana cara mengendalikan stress yang dialami serta bagaimana cara berteman atau berinteraksi dengan orang sekitarnya.
Mendidik anak tanpa kekerasan serta didiklah sesuai zamannya. Pesatnya perkembangan teknologi, memudahkan anak mengakses atau menerima semua informasi jika tidak disikapi dengan tegas dan dalam pengawasan orang tua. Berilah penjelasan mengenai konsekuensi apabila membuat kesalahan, lontarkanlah pujian jika anak berperilaku baik, dan ajaklah anak melakukan aktivitas yang positif serta menyenangkan bersama-sama.
Upaya pencegahan di sekolah, memberikan sosialisasi kepada setiap murid mengenai kebijakan “anti bullying” yang ada di sekolah. Hal ini dapat membantu terbangun komunikasi yang efektif antara guru dan murid, serta menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif.
Pihak sekolah menyediakan bantuan kepada murid yang menjadi korban bully dan melakukan pertemuan berkala dengan orangtua atau komite sekolah untuk mengajarkan kepada anak-anak mengenai dampak negatif dari bullying.
Hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah memberikan pengajaran kepada kelompok muda untuk melakukan berbagai kegiatan sosial dan membangun kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak. Cara ini dapat dimulai dari tingkat desa atau kampung, melalui Perlindungan Anak Terintegrasi Berbasis Masyarakat (PATBM).
Pewarta: Niky Putri Rahmadhani
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.