Bangkalan kembangkan melon irigasi tetes untuk ketahanan pangan - ANTARA News Jawa Timur
Setelah kami lihat secara langsung, metode ini memungkinkan distribusi air dan nutrisi berlangsung lebih tepat sasaran sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien, produktivitas tanaman meningkat, serta biaya operasional dapat ditekan dibandingkan pola budidaya konvensional
Bangkalan, Jatim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Jawa Timur, bekerja sama dengan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengembangkan tanaman melon dengan teknologi irigasi tetes, sebagai upaya untuk menguatkan ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian petani di wilayah itu.
Bupati Bangkalan Lukman Hakim di Bangkalan, Minggu, mengatakan Pemkab Bangkalan tertarik untuk bekerja sama dengan kampus negeri di Bangkalan itu, setelah UTM menunjukkan hasil dari tanaman yang dikembangkan pihak kampus.
"Setelah kami lihat secara langsung, metode ini memungkinkan distribusi air dan nutrisi berlangsung lebih tepat sasaran sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien, produktivitas tanaman meningkat, serta biaya operasional dapat ditekan dibandingkan pola budidaya konvensional," katanya.
UTM akan memberikan bimbingan dan pembinaan tentang teknik budidaya agar petani bisa menanam jenis tanaman tersebut sesuai dengan keinginan.
Budi daya melon yang dikembangkan UTM Bangkalan itu memanfaatkan sistem tanam menggunakan polibag yang dipadukan dengan teknologi irigasi tetes.
Metode ini memungkinkan distribusi air dan nutrisi berlangsung lebih tepat sasaran, sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien, produktivitas tanaman meningkat, serta biaya operasional dapat ditekan dibandingkan pola budidaya konvensional.
Selain itu, sistem budi daya, yang diterapkan mampu meningkatkan kepadatan tanaman, sehingga hasil panen lebih optimal dalam satu siklus produksi.
Efisiensi tersebut menjadikan model budi daya ini memiliki prospek ekonomi yang layak untuk diterapkan dan dikembangkan secara lebih luas.
Tidak hanya berorientasi pada produksi, kebun melon agroekoteknologi UTM juga menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus sarana pengembangan unit usaha kampus.
Ke depan, model budi daya ini diharapkan mampu mendukung berbagai program strategis pemerintah, termasuk penguatan ketahanan pangan, penyediaan pangan bergizi, serta pengembangan agribisnis berbasis inovasi yang berkelanjutan.
Sebelumnya, Rektor UTM Bangkalan Prof Safi’ mengatakan tanaman melon dengan teknologi iritasi tetes tersebut menjadi bukti bahwa riset perguruan tinggi mampu menghadirkan inovasi yang bernilai ekonomi sekaligus memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
"Melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, kita dapat menghasilkan sistem budi daya yang lebih efisien dan berkualitas. Inilah makna Kampus Berdampak, ketika hasil riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat dihilirisasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Baca juga: Pemkab dan Polisi di Bangkalan bersinergi sukseskan swasembada pangan
Ia menambahkan pengembangan teknologi budi daya pertanian harus terus diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku sektor pertanian agar inovasi yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta memperkuat perekonomian daerah.
Inovasi teknologi budi daya dan sistem irigasi yang dikembangkan diharapkan dapat direplikasi secara lebih luas untuk mendukung ketahanan pangan nasional, mempercepat hilirisasi hasil penelitian, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor pertanian.
Pewarta: Abd Aziz
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.