Balinale Perluas Peluang Sineas Indonesia

Jakarta -

Kabar kali ini datang Balinale. Balinale, bisa menjadi salah satu peluang bagi para pembuat film Indonesia dalam industri perfilman global.

Sebelumnya, sudah ada pertemuan antara Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, MSi TrAP, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (PPPK) beserta Irini Dewi Wanti, S.S., M.SP., Direktur Film, Musik, dan Seni, dan Komite Balinale, Donny Damara (Senior Festival Advisor), Yoke Darmawan (Director International Communications), Aris Muda Irawan (Media Relations), juga Pendiri dan Direktur Festival, Deborah Gabinetti.

Dalam pertemuan itu, Kementerian Kebudayaan juga memberikan penghargaan kepada penerima penghargaan perdana Balinale untuk kategori Tapestry of Indonesia. Tapestry ini, merupakan kategori baru membuka ruang film pendek dokumenter dan naratif Indonesia yang luar biasa dan memperdalam pemahaman penonton tentang masyarakat, komunitas, tradisi, dan keragaman budaya bangsa. Festival ini juga mendukung dan menyoroti wawasan dan gagasan generasi muda, mengundang para pembuat film untuk berbagi identitas dan individualitas mereka yang beragam melalui cerita-cerita mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penghargaan perdana diberikan kepada film Amazing Fantastic Extraordinary People, yang disutradarai Nadina Habsjah dan Yusgunawan Marto. Balinale meminta Dirjen PPPK Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra menyerahkan penghargaan tersebut kepada sutradara Nadina Habsjah, produser Adhytia Putra, dan penulis Amanda Simandjuntak.

"Penghargaan Tapestry of Indonesia, mewakili apresiasi Balinale terhadap para pembuat film muda yang merangkai kisah, keberagaman, dan identitas Indonesia untuk diperkenalkan kepada dunia. Karya-karya unik ini harus mampu menyentuh hati penonton, sehingga Indonesia tidak hanya dilihat, tetapi juga benar-benar dirasakan," kata Ahmad Mahendra dalam keterangannya, hari ini.

Menjelang edisi ke-20 Balinale pada 2027, Ahmad Mahendra menegaskan dukungan berkelanjutan Kementerian terhadap festival tersebut dan kontribusinya terhadap meningkatnya kehadiran film Indonesia di kancah internasional.

Komite Balinale melaporkan festival 2026 menerima lebih dari 1.300 pengajuan dari seluruh dunia. Seleksi resmi menampilkan 94 film dari 38 negara, termasuk 23 film Indonesia, dengan 20 pemutaran perdana dunia, 10 pemutaran perdana internasional, dan 26 pemutaran perdana Asia.

"Balinale didirikan untuk menciptakan peluang yang bermakna bagi para pembuat film Indonesia dengan membawa komunitas film internasional ke Indonesia sekaligus membawa cerita-cerita Indonesia ke seluruh dunia," ucap Deborah Gabinetti.

(wes/pus)