Bahlil Tegaskan Ekspor Bauksit dan Tembaga Bakal Tetap Dibatasi

Lukman Nur Hakim Akurat.co

| 8 Agustus 2026, 12:06 WIB

Bahlil Tegaskan Ekspor Bauksit dan Tembaga Bakal Tetap Dibatasi

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat menjadi keynote speech "10 Karya Nyata untuk Negeri, Setengah Abad Bahlil Lahadalia" - AKURAT.CO/Lukman Nur Hakim

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkap pemerintah masih akan mempertahankan kebijakan pelarangan ekspor sejumlah komoditas mineral mentah setelah nikel.

Bahlil menyebut komoditas tersebut antara lain bauksit dan tembaga. Kebijakan itu menjadi bagian dari strategi pemerintah mendorong hilirisasi dan transformasi ekonomi nasional.

“Nah untuk kedepan, saya pikir kan sudah ada beberapa komoditas yang harus kita tetap pertahankan pelarangannya. Di antaranya bauksit, kemudian tembaga,” kata Bahlil selepas acara peluncuran dan bedah buku ‘10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia’, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Kementerian ESDM Kantongi Tambahan PNBP Rp20,98 Miliar dari Lelang Batu Bara Hasil Penegakan Hukum

Menurut Bahlil, kebijakan pembatasan hingga pelarangan ekspor mineral mentah diperlukan untuk memastikan sumber daya alam Indonesia diolah terlebih dahulu di dalam negeri.

Dia menilai pemerintah tidak memiliki banyak pilihan apabila ingin mengubah struktur ekonomi Indonesia dari yang selama ini bertumpu pada ekspor komoditas mentah menjadi ekonomi berbasis nilai tambah.

“Dalam rangka untuk melakukan transformasi ekonomi, memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri dalam negeri,” ujarnya.

Bahlil menyampaikan, keberadaan industri pengolahan di dalam negeri tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian.

Menurutnya, pengembangan industri hilir di sektor mineral dapat menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: PNBP 2025 Tembus Rp138,4 Triliun, Kementerian ESDM Raih WTP Lagi

“Dan industri dalam negeri itu menciptakan nilai tambah kemudian untuk bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi,” tutur Bahlil.