Bahlil Pastikan Stok LPG Aman, Harga Tak Naik Berkat Kontrak AS

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia dalam kondisi aman. Kepastian tersebut didukung oleh kontrak jangka panjang pasokan LPG dari Amerika Serikat (AS).

“LPG no issue (tidak ada masalah), karena kita sudah mendapat kontrak jangka panjang,” ujar Bahlil, seperti dikutip Antara di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut Bahlil, kontrak jangka panjang tersebut merupakan bagian dari kesepakatan impor sejumlah komoditas energi dari AS dengan nilai mencapai US$15 miliar.

Dengan adanya kepastian pasokan tersebut, Bahlil juga memastikan harga LPG nonsubsidi tidak akan mengalami kenaikan.

Sementara itu, mengenai rencana impor LPG dari Rusia, Bahlil menjelaskan bahwa pembahasan kerja sama energi dengan negara tersebut saat ini masih berfokus pada impor minyak mentah atau crude oil.

“Kalau kontrak jangka panjang kita dari LPG kan salah satunya dari Amerika. Kalau di Rusia itu, kami baru bicara pada tataran crude, minyak. Kalau LPG masih dari Amerika, ya,” kata Bahlil.

Stok BBM

Sebelumnya, Bahlil juga menegaskan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional aman, yakni di kisaran 20 hari sebagaimana standar nasional minimal yang berkisar di angka 21–28 hari.

Pernyataan tersebut terkait dengan antrean panjang pembelian BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), utamanya yang terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan.

Bahlil menyampaikan sudah mengecek secara langsung apa yang menjadi permasalahan dari antrean tersebut.

“Aku udah cek apa ini masalahnya, karena cadangan nasional kita 20 hari. Harusnya enggak (antre). Ternyata, bapak ibu semua, itu adalah ada sebagian yang shifting (berpindah),” kata Bahlil.

Terjadi perpindahan pola konsumsi masyarakat dari yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi menjadi BBM subsidi akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Bahlil tidak mempermasalahkan perpindahan tersebut, namun berharap agar masyarakat yang tergolong mampu agar tidak ikut menggunakan BBM bersubsidi, seperti pertalite dan biosolar.

“Yang tadinya tidak memakai subsidi, mereka beralih ke minyak subsidi. Ya nggak apa-apa, tetapi saya mohon, saya menghimbau kepada saudara-saudara kita yang mampu, yang mobilnya bagus, pakai perasaan lah,” ucap Bahlil.