Bahaya Tak Bernama, Grooming Datang sebagai Kepercayaan
Jakarta, CNN Indonesia --
Dua tahun lalu, ketika Bunga (bukan nama sebenarnya) masih berusia 16 tahun, niatnya cuma satu saat bermain media sosial: mencari teman. Tapi siapa sangka, upaya mencari teman itu berujung nestapa.
Di sebuah aplikasi ia berkenalan dengan seorang laki-laki dewasa. Mereka bertukar nama, umur dan hal-hal kecil yang biasa ditukar dalam perkenalan. Bunga tidak memberikan alamatnya. Ia merasa sudah cukup berhati-hati. Percakapannya sendiri terasa biasa saja.
"Ngobrol apa aja, nyambung," kata Bunga. "Enggak ada yang jahat atau aneh."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Percakapan lalu berpindah ke WhatsApp. Di sana bahasannya berubah pelan-pelan. Mula-mula nada yang membuat tidak nyaman hingga permintaan foto bagian dada dan leher. Bunga menolak. Laki-laki itu terus mendesak, lalu mengancam akan memviralkan percakapan mereka.
Ancaman itu berlangsung tiga sampai empat hari.
"Takut. Enggak bisa ngapa-ngapain juga. Rasanya pengin nangis," kata Bunga beberapa waktu lalu.
Kini Bunga 18 tahun. Ketika mengulang cerita itu dalam wawancara, ia duduk bersama psikolog yang mendampinginya sejak kejadian.
Dua tahun sudah berlalu. Tetapi di satu bagian percakapan, air matanya kembali jatuh.
Tubuhnya sudah lama keluar dari situasi itu. Tapi, ingatannya belum sepenuhnya pergi.
Pilihan Redaksi
- Dugaan Child Grooming di Sekolah Tangerang, Ini Jenis dan Dampaknya
- PP Tunas Sudah Berjalan, Apakah Ruang Digital Lebih Ramah Anak?
- Urgensi Pembatasan Anak di Ruang Digital Lewat PP Tunas
Yang paling sulit dipahami bukan perbuatan pelaku. Orang tua Bunga mengaku sebenarnya telah mengajarkan anaknya untuk berhati-hati terhadap perilaku seksual. Mereka mengira bekal itu akan membuatnya mengenali bahaya.
Bekal itu ada. Namun, bahayanya datang tidak seperti yang mereka bayangkan. Ia datang sebagai teman bicara.
Dan, di situlah asumsi paling dasar dalam perlindungan anak mulai retak. Beban untuk tahu kapan sebuah hubungan berubah menjadi ancaman masih terlalu sering diletakkan pada anak.
Bahaya yang terasa aman
Sani Budiantini tahu mengapa awal cerita Bunga terdengar begitu biasa. Psikolog anak, remaja dan keluarga yang mendampingi Bunga itu mengatakan, anak sering membaca orang lain dengan ukuran dirinya sendiri.
"Anak itu, kan, seringkali memang jujur apa adanya," ujarnya.
Maka seseorang yang berbicara sopan, mendengarkan keluh kesah, memberi pujian dan terus hadir bisa terlihat tulus. Anak merasa didengar. Dihargai. Aman.
Rasa aman itulah pintunya.
Pendiri ECPAT Indonesia Ahmad Sofian menemukan pola serupa dalam kasus-kasus yang ditangani lembaganya. Menurutnya pelaku tidak selalu mencari anak yang tampak rentan. Kesepian saja bisa cukup. Konflik dengan orang tua bisa menjadi celah.
Begitu pula kebutuhan mendapat pengakuan, masalah di sekolah, keinginan punya teman, atau sekadar kesenangan karena ada seseorang yang selalu membalas pesan.
Setelah kepercayaan terbentuk, batas digeser sedikit demi sedikit. Percakapan mulai menyentuh tubuh, pacaran, seksualitas. Rahasia dibuat. Hubungan diberi kesan istimewa. Tidak selalu ada ancaman di awal.
Ahmad menyebut, kasih sayang yang sudah dimanipulasi kadang menjadi alat kontrol yang lebih kuat daripada ancaman.
"Grooming bukan terutama sebagai urutan pesan, tetapi sebagai proses membangun kekuasaan atas anak melalui sebuah relasi," katanya.
Gambaran tentang predator yang mengintai di internet, kata Ahmad, terlalu sederhana untuk menjelaskan itu. Pelaku yang efektif tidak selalu membuat anak merasa dipaksa. Ia membuat anak merasa memilih.
Pada kisah Bunga, pergeseran itu terjadi dalam satu hubungan. Dalam kasus lain, mekanisme yang sama bisa tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang guru di Lampung Tengah menyamar sebagai remaja untuk bisa masuk ke grup chat murid-muridnya sendiri. Yang membuatnya curiga bukan sebuah laporan, tapi cara anak-anak di kelasnya mulai berbicara.
Di dalam grup itu, percakapan seksual sudah menjadi semacam bahasa bersama. Anak-anak membicarakannya satu sama lain, sementara satu orang dewasa mengarahkan dan merespons.
Kasus eksploitasi seksual terhadap 36 anak sekolah tersebut terbongkar pada 2023 lalu.
Ilustrasi. Pelecehan seksual terhadap anak. (iStock/nicoletaionescu)
Ada satu hal dalam kasus itu yang lebih sulit dicerna daripada jumlah korbannya. Pelaku tidak perlu meyakinkan setiap anak bahwa yang terjadi itu wajar. Ia cukup masuk ke tempat anak-anak merasa sedang bermain bersama teman, lalu membuat percakapan seksual terasa biasa di antara mereka.
Teknologi kemudian memberi kemampuan baru pada proses yang sebenarnya tua ini. Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengatakan, platform memungkinkan seseorang membaca minat anak, lingkungan sosialnya, rutinitas, sekolah, bahkan kondisi emosional yang terbaca dari jejak digital. Perkenalan bisa dimulai di sebuah gim lalu bergeser ke pesan pribadi. Identitas bisa disusun agar terasa dekat dengan dunia anak.
Jika sudah begitu, apalah arti nasihat 'jangan bicara dengan orang asing' dalam kondisi yang sedemikian rupa?
Setelah anak bicara
Pada kejadian Bunga, titik baliknya datang ketika ancaman terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Ia mencari psikolog seperti Sani, bukan orang tuanya.
"Takut dimarahi," kata Bunga.
Dua kata itu adalah pintu masuk ke persoalan yang jauh lebih besar daripada satu keluarga. Sani meminta orang tua Bunga berjanji tidak memarahinya. Mereka mendengarkan cerita anaknya, lalu mengatakan akan berdiri di pihaknya.
"Kami berusaha tidak menyalahkan dan langsung bilang kami ada di posisi anak," kata orang tua Bunga.
Nomor telepon diganti. Akun ditutup. Kontak diputus.
Respons pertama yang diterima anak bisa menentukan apakah ceritanya berlanjut atau berhenti. Jika ia merasa dipercaya, ia mungkin akan terus bercerita. Jika merasa dihakimi, bagian lain dari pengalamannya bisa tetap terkunci, kadang bertahun-tahun.
Ahmad menyebut, anak bisa diam karena malu, merasa ikut bersalah, takut teleponnya disita, khawatir mengecewakan keluarga, bahkan takut kehilangan hubungan dengan pelaku.
"Pertanyaan pertama kepada anak seharusnya bukan 'Kenapa kamu melakukan itu?'," ujar dia.
Menurutnya, respons pertama sebaiknya berfokus pada apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan agar anak merasa lebih aman.
Ilustrasi child grooming. (istockphoto/HRAUN)
Persoalannya, banyak anak tidak pernah sampai ke percakapan itu.
Studi Disrupting Harm di Indonesia, yang menggunakan data 2020 hingga 2021, menemukan bahwa angka anak yang tidak bercerita kepada siapa pun berkisar antara 17-56 persen, bergantung pada bentuk pengalaman yang ditanyakan. Mereka cenderung memilih teman atau saudara kandung daripada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.
Survei Thorn terhadap 1.003 anak usia 9-17 tahun di Amerika Serikat pada 2025 memberi gambaran pembanding, bukan ukuran bagi Indonesia. Anak yang mengalami interaksi seksual daring jauh lebih banyak menggunakan perangkat keselamatan online daripada mencari dukungan offline.
Pada saat paling rentan, anak kadang lebih mudah menekan block atau report daripada mencari bantuan dari orang lain. Tapi, block dan report juga tak jadi jaminan aman.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Jakarta, CNN Indonesia –
Dua tahun lalu, ketika Bunga (bukan nama sebenarnya) masih berusia 16 tahun, niatnya cuma satu saat bermain media sosial: mencari teman. Tapi siapa sangka, upaya mencari teman itu berujung nestapa.
Di sebuah aplikasi ia berkenalan dengan seorang laki-laki dewasa. Mereka bertukar nama, umur dan hal-hal kecil yang biasa ditukar dalam perkenalan. Bunga tidak memberikan alamatnya. Ia merasa sudah cukup berhati-hati. Percakapannya sendiri terasa biasa saja.
“Ngobrol apa aja, nyambung,” kata Bunga. “Enggak ada yang jahat atau aneh."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Percakapan lalu berpindah ke WhatsApp. Di sana bahasannya berubah pelan-pelan. Mula-mula nada yang membuat tidak nyaman hingga permintaan foto bagian dada dan leher. Bunga menolak. Laki-laki itu terus mendesak, lalu mengancam akan memviralkan percakapan mereka.
Ancaman itu berlangsung tiga sampai empat hari.
"Takut. Enggak bisa ngapa-ngapain juga. Rasanya pengin nangis," kata Bunga beberapa waktu lalu.
Kini Bunga 18 tahun. Ketika mengulang cerita itu dalam wawancara, ia duduk bersama psikolog yang mendampinginya sejak kejadian.
Dua tahun sudah berlalu. Tetapi di satu bagian percakapan, air matanya kembali jatuh.
Tubuhnya sudah lama keluar dari situasi itu. Tapi, ingatannya belum sepenuhnya pergi.
Pilihan Redaksi
- Dugaan Child Grooming di Sekolah Tangerang, Ini Jenis dan Dampaknya
- PP Tunas Sudah Berjalan, Apakah Ruang Digital Lebih Ramah Anak?
- Urgensi Pembatasan Anak di Ruang Digital Lewat PP Tunas
Yang paling sulit dipahami bukan perbuatan pelaku. Orang tua Bunga mengaku sebenarnya telah mengajarkan anaknya untuk berhati-hati terhadap perilaku seksual. Mereka mengira bekal itu akan membuatnya mengenali bahaya.
Bekal itu ada. Namun, bahayanya datang tidak seperti yang mereka bayangkan. Ia datang sebagai teman bicara.
Dan, di situlah asumsi paling dasar dalam perlindungan anak mulai retak. Beban untuk tahu kapan sebuah hubungan berubah menjadi ancaman masih terlalu sering diletakkan pada anak.
Bahaya yang terasa aman
Sani Budiantini tahu mengapa awal cerita Bunga terdengar begitu biasa. Psikolog anak, remaja dan keluarga yang mendampingi Bunga itu mengatakan, anak sering membaca orang lain dengan ukuran dirinya sendiri.
"Anak itu, kan, seringkali memang jujur apa adanya," ujarnya.
Maka seseorang yang berbicara sopan, mendengarkan keluh kesah, memberi pujian dan terus hadir bisa terlihat tulus. Anak merasa didengar. Dihargai. Aman.
Rasa aman itulah pintunya.
Pendiri ECPAT Indonesia Ahmad Sofian menemukan pola serupa dalam kasus-kasus yang ditangani lembaganya. Menurutnya pelaku tidak selalu mencari anak yang tampak rentan. Kesepian saja bisa cukup. Konflik dengan orang tua bisa menjadi celah.
Begitu pula kebutuhan mendapat pengakuan, masalah di sekolah, keinginan punya teman, atau sekadar kesenangan karena ada seseorang yang selalu membalas pesan.
Setelah kepercayaan terbentuk, batas digeser sedikit demi sedikit. Percakapan mulai menyentuh tubuh, pacaran, seksualitas. Rahasia dibuat. Hubungan diberi kesan istimewa. Tidak selalu ada ancaman di awal.
Ahmad menyebut, kasih sayang yang sudah dimanipulasi kadang menjadi alat kontrol yang lebih kuat daripada ancaman.
"Grooming bukan terutama sebagai urutan pesan, tetapi sebagai proses membangun kekuasaan atas anak melalui sebuah relasi," katanya.
Gambaran tentang predator yang mengintai di internet, kata Ahmad, terlalu sederhana untuk menjelaskan itu. Pelaku yang efektif tidak selalu membuat anak merasa dipaksa. Ia membuat anak merasa memilih.
Pada kisah Bunga, pergeseran itu terjadi dalam satu hubungan. Dalam kasus lain, mekanisme yang sama bisa tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang guru di Lampung Tengah menyamar sebagai remaja untuk bisa masuk ke grup chat murid-muridnya sendiri. Yang membuatnya curiga bukan sebuah laporan, tapi cara anak-anak di kelasnya mulai berbicara.
Di dalam grup itu, percakapan seksual sudah menjadi semacam bahasa bersama. Anak-anak membicarakannya satu sama lain, sementara satu orang dewasa mengarahkan dan merespons.
Kasus eksploitasi seksual terhadap 36 anak sekolah tersebut terbongkar pada 2023 lalu.
Ilustrasi. Pelecehan seksual terhadap anak. (iStock/nicoletaionescu)
Ada satu hal dalam kasus itu yang lebih sulit dicerna daripada jumlah korbannya. Pelaku tidak perlu meyakinkan setiap anak bahwa yang terjadi itu wajar. Ia cukup masuk ke tempat anak-anak merasa sedang bermain bersama teman, lalu membuat percakapan seksual terasa biasa di antara mereka.
Teknologi kemudian memberi kemampuan baru pada proses yang sebenarnya tua ini. Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengatakan, platform memungkinkan seseorang membaca minat anak, lingkungan sosialnya, rutinitas, sekolah, bahkan kondisi emosional yang terbaca dari jejak digital. Perkenalan bisa dimulai di sebuah gim lalu bergeser ke pesan pribadi. Identitas bisa disusun agar terasa dekat dengan dunia anak.
Jika sudah begitu, apalah arti nasihat 'jangan bicara dengan orang asing' dalam kondisi yang sedemikian rupa?
Setelah anak bicara
Pada kejadian Bunga, titik baliknya datang ketika ancaman terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Ia mencari psikolog seperti Sani, bukan orang tuanya.
"Takut dimarahi," kata Bunga.
Dua kata itu adalah pintu masuk ke persoalan yang jauh lebih besar daripada satu keluarga. Sani meminta orang tua Bunga berjanji tidak memarahinya. Mereka mendengarkan cerita anaknya, lalu mengatakan akan berdiri di pihaknya.
"Kami berusaha tidak menyalahkan dan langsung bilang kami ada di posisi anak," kata orang tua Bunga.
Nomor telepon diganti. Akun ditutup. Kontak diputus.
Respons pertama yang diterima anak bisa menentukan apakah ceritanya berlanjut atau berhenti. Jika ia merasa dipercaya, ia mungkin akan terus bercerita. Jika merasa dihakimi, bagian lain dari pengalamannya bisa tetap terkunci, kadang bertahun-tahun.
Ahmad menyebut, anak bisa diam karena malu, merasa ikut bersalah, takut teleponnya disita, khawatir mengecewakan keluarga, bahkan takut kehilangan hubungan dengan pelaku.
"Pertanyaan pertama kepada anak seharusnya bukan 'Kenapa kamu melakukan itu?'," ujar dia.
Menurutnya, respons pertama sebaiknya berfokus pada apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan agar anak merasa lebih aman.
Ilustrasi child grooming. (istockphoto/HRAUN)
Persoalannya, banyak anak tidak pernah sampai ke percakapan itu.
Studi Disrupting Harm di Indonesia, yang menggunakan data 2020 hingga 2021, menemukan bahwa angka anak yang tidak bercerita kepada siapa pun berkisar antara 17-56 persen, bergantung pada bentuk pengalaman yang ditanyakan. Mereka cenderung memilih teman atau saudara kandung daripada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.
Survei Thorn terhadap 1.003 anak usia 9-17 tahun di Amerika Serikat pada 2025 memberi gambaran pembanding, bukan ukuran bagi Indonesia. Anak yang mengalami interaksi seksual daring jauh lebih banyak menggunakan perangkat keselamatan online daripada mencari dukungan offline.
Pada saat paling rentan, anak kadang lebih mudah menekan block atau report daripada mencari bantuan dari orang lain. Tapi, block dan report juga tak jadi jaminan aman.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Sebelum Bahaya Punya Nama, Grooming Datang sebagai Kepercayaan

Ilustrasi child grooming. (iStock/Evgen_Prozhyrko)
Ketika kendali berpindah lagi
Didengar saja belum cukup. Setelah itu, anak masih harus melewati proses yang panjang. Ahmad menggambarkan 24 hingga 72 jam pertama setelah kasus terungkap sebagai waktu ketika terlalu banyak hal harus berjalan bersamaan.
Anak harus dibuat aman. Kontak dengan pelaku dihentikan. Bukti digital dijaga. Dukungan psikologis mungkin dibutuhkan. Sekolah tetap harus berjalan. Keluarga perlu memahami konsekuensi jika perkara dilaporkan.
Lalu datang pertanyaan yang terdengar administratif tetapi menentukan hidup seorang korban: siapa mengerjakan apa?
Indonesia sebenarnya punya banyak pintu layanan. Masalah, kata Ahmad, muncul ketika seorang anak berpindah dari pintu pertama ke pintu berikutnya.
"Siapa yang memastikan anak tidak hilang setelah melewati pintu pertama?" kata dia.
Sebuah laporan pidana bisa terus berjalan ketika terapi sudah berhenti. Konten bisa dihapus sebelum bukti diamankan. Anak mendapat asesmen awal, lalu beberapa bulan kemudian tidak ada lagi yang tahu bagaimana ia tidur, sekolah, berteman, atau menghadapi ketakutan.
Pilihan Redaksi
- 7 Cara Cegah Kejahatan Seksual Anak
- A to Z Child Grooming: Ciri Pelaku hingga Cara Mencegah
- Guru Les di Tangerang Jadi Tersangka Pelecehan, Korban Capai 29 Anak
Ahmad merujuk evaluasi program penanganan eksploitasi seksual anak daring di Indonesia. Penanganan, lanjut dia, menjadi lebih terhubung ketika layanan memakai asesmen dan jalur rujukan yang sama, disertai konferensi kasus dan kordinator kasus. Waktu respons menjadi lebih pendek dan risiko anak terlepas dari sistem perlindungan ikut berkurang.
Tetapi, evaluasi yang sama menemukan batasnya. Kanal pelaporan masih tidak selalu diingat, kapasitas layanan berbeda-beda, sementara sumber daya dan keberlanjutan anggaran di tingkat lokal tetap menjadi persoalan.
Artinya, bantuan bisa bekerja pada satu tahap, tetapi anak masih bisa tersendat di tahap berikutnya.
Sebagai akibatnya, Wakil Ketua LPSK Sri Nurherwati melihat pemulihan menjadi sangat inidivual.
Dalam praktiknya, korban atau keluarga bisa lelah, takut, atau kehilangan kepercayaan pada proses. Ada yang mencabut laporan, berdamai, atau berhenti menerima layanan. Kondisinya semakin berat ketika pelaku adalah orang dekat atau punya kuasa terhadap keluarga.
Setelah kasus diketahui, orang-orang yang ingin menyelamatkannya kerap mengambil seluruh kendali itu sekaligus.
Telepon disita. Sekolah dipindahkan. Pertemanan dibatasi. Anak ditanya lagi, lalu ditanya lagi oleh orang berikutnya.
Semuanya dilakukan karena orang dewasa ingin membuatnya aman. Tetapi bagi anak, kata Ahmad, pengalaman itu bisa terasa seperti dirinya yang sedang dihukum.
[Gambas:Video CNN]
Ada satu hal lagi yang sering mengejutkan keluarga. Anak bisa merindukan, bahkan membela, orang yang telah menyakitinya. Itu jadi ukuran seberapa jauh grooming sudah bekerja.
Keluar dari grooming tidak selalu berarti keluar dari keterikatan yang dibangun grooming. Yang harus dipulihkan bukan cuma jarak dari pelaku. Tapi juga waktu, yang jadi tolok ukur keberhasilan.
"Kalau enam bulan kemudian tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana kondisi anak," katanya, "maka secara substansial sistem belum dapat mengatakan bahwa pemulihan telah selesai."
Sebelum anak harus mengenalinya sendiri
Selama bertahun-tahun, pesan keselamatan digital bertumpu pada satu aktor utama: anak.
Hati-hati. Jangan bicara dengan orang asing. Jangan kirim foto. Block. Report. Beri tahu orang tua.
Semua itu tetap penting. Tetapi Indriyatno memperingatkan bahwa menjadikan literasi sebagai pertahanan utama dapat secara halus memindahkan tanggung jawab dari sistem kepada anak dan keluarganya.
"Literasi digital adalah salah satu lapisan pertahanan," katanya, "bukan mekanisme untuk memindahkan tanggung jawab platform kepada anak dan orang tua."
Age restriction bukan benteng. Parental control bisa membantu, tetapi pengawasan diam-diam juga bisa menggerus kepercayaan yang justru dibutuhkan anak untuk bicara. Block menghentikan satu akun, bukan seseorang yang bisa membuat akun baru dalam dua menit.
Maka, perlindungan harus bergerak lebih awal.
Yang menarik, pemikiran serupa kini datang dari arah yang tidak terduga.
Dalam respons tertulis kepada CNNIndonesia, Roblox mengakui satu asumsi yang sedang mereka tinggalkan. Perilaku berbahaya tidak selalu bisa dikenali dari satu pesan. Sebuah percakapan dapat bermula biasa saja dan berubah perlahan.
Karena itu, perusahaan mengembangkan Sentinel, sistem AI yang membaca pola perilaku dalam rentang waktu lebih panjang, bukan potongan konten. Roblox juga menggunakan kombinasi AI dan peninjau manusia untuk moderasi, serta menyebut sinyal tertentu dapat diteruskan ke tim investigasi.
Hal di atas menjadi bukti bahwa platform besar melihat persoalan yang sama lewat logika sistem.
Pemerintah ingin kemampuan semacam itu bergerak lebih jauh. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, platform perlu semakin mampu mengenali kontak yang tidak wajar, upaya memindahkan percakapan ke ruang privat, dan pola lain yang menunjukkan risiko sedang meningkat.
"Kecanggihan algoritma jangan hanya digunakan untuk mengetahui apa yang membuat anak semakin lama berada di platform, tetapi juga untuk mengenali ketika seorang anak sedang berada dalam risiko," katanya.
Ilustrasi child grooming. (iStockphoto)
Tetapi mengenali pola bukan hal yang sama dengan mencegah kerugian. Roblox memaparkan performa teknis model estimasi usia mereka, termasuk evaluasi konsistensi prediksi dan pembanding dari peninjau manusia.
Angka-angka itu menunjukkan sebuah sistem bekerja sebagaimana dirancang. Belum menunjukkan lebih sedikit anak mengalami grooming.
Indriyatno menilai pertanyaannya harus bergerak ke hasil. Jumlah fitur keselamatan bukan ukuran keselamatan.
Indonesia kini punya PP TUNAS dan aturan turunannya yang mewajibkan platform menilai risiko produk dan layanannya terhadap anak. Ahmad menyebut ini perkembangan penting. Ia juga melihat pekerjaan yang jauh lebih sulit baru saja dimulai.
"Sekarang tantangannya bergeser dari 'apakah kita mempunyai regulasi?' menjadi 'apakah kita mampu menguji apakah regulasi itu benar-benar bekerja?'," ujarnya.
Pemerintah mengatakan, PP TUNAS memang tidak berhenti pada penilaian mandiri platform. Meutya menjelaskan, Komdigi akan memverifikasi profil risiko yang diserahkan perusahaan, dan hasilnya dapat berbeda dari penilaian awal platform.
Pengawasan itu, kata dia, harus berorientasi pada praktik, bukan berhenti pada dokumen.
Tetapi, bahkan verifikasi bukan ukuran akhirnya.
"Ukuran akhirnya adalah apakah risiko yang dihadapi anak di ruang digital benar-benar berkurang," kata Meutya.
Setelah itu, barulah angka yang lebih sulit ditanyakan. Apakah semakin sedikit anak berhasil dihubungi akun dewasa yang tidak dikenal. Apakah laporan lebih cepat ditindaklanjuti. Apakah kasus eksploitasi seksual anak daring turun.
Karena kalau yang dihitung hanya akun yang dibatasi, laporan yang masuk dan fitur baru yang diluncurkan, sistem masih sedang menghitung pekerjaannya sendiri. Belum keselamatan anak.
Pengujian itu juga punya batas yang lain. Sistem yang mencoba membaca risiko tidak boleh berubah menjadi pengawasan massal terhadap anak. Indriyatno menilai, data yang dikumpulkan harus seminimal mungkin, keputusan penting tetap melibatkan peninjauan manusia dan anak harus punya jalan untuk menggugat ketika sistem salah membaca dirinya.
Perlindungan yang mengambil seluruh privasi dan pilihan anak akan menciptakan ironi baru dari masalah yang sejak awal adalah tentang hilangnya kendali.
Yang tidak masuk ke dasbor
Ilustrasi child grooming. (Pixabay/buerserberg)
Sani meyakinkan Bunga bahwa ia adalah korban. Orang tuanya tidak memarahinya. Ia menulis di buku harian, belajar menenangkan diri, dan perlahan mulai bicara lebih terbuka.
Dua tahun kemudian, setelah air matanya jatuh lagi saat mengingat kejadian itu, Bunga menggambarkan kondisinya sekarang dengan sederhana.
"Jauh lebih baik. Lebih lega."
Pengalaman Bunga tentu tidak bisa menjadi ukuran bagi semua anak. Yang jelas, pulih di sini bukan sekedar berhenti berhubungan dengan pelaku.
"Grooming bekerja dengan mengambil alih kepercayaan dan kendali anak, maka pemulihan harus bekerja dengan mengembalikan keduanya," ujar Ahmad.
Selama ini, yang paling mudah diukur adalah apa yang dilakukan sistem. Tapi, pemulihan pada anak jauh lebih sulit diukur.
Apakah hidup anak terasa kembali menjadi miliknya sendiri? Tak ada yang bisa mengukurnya.