Badan Geologi ESDM ingatkan warga patuhi jalur evakuasi pasgagempa Flores
Jakarta (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, mengikuti arahan BPBD setempat, memeriksa kondisi bangunan dan mematuhi rambu dan jalur evakuasi menyusul gempa dengan pusat di Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, mengatakan masyarakat juga diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa bumi dan tsunami tersebut.
Kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan tetap perlu dijaga, sementara warga diimbau menghindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat kondisi hujan.
Pada Sabtu ini pukul 04.58.23 WIB, gempa bumi mengguncang dan dirasakan masyarakat di berbagai wilayah NTT hingga NTB, Bali dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episentrum berada pada koordinat 8,33 LS-121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, NTT, dengan magnitudo awal M7,0 dan kedalaman 10 kilometer.
Parameter gempa kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
Data GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat episentrum pada koordinat 8,375 LS-121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer.
Lana Saria menjelaskan lokasi episenter berada di laut.
Daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan.
Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur tersier serta batuan sedimen berumur kuarter.
Kondisi geologi itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami kuatnya guncangan di permukaan.
"Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi," ujar Lana Saria.
Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episenter terklasifikasi dalam Kelas Tanah C atau tanah sangat padat/batuan lunak, Kelas Tanah D atau tanah sedang, dan Kelas Tanah E yakni tanah lunak.
"Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens," tambah Lana.
Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.
Badan Geologi menyatakan daerah tersebut berada dalam kawasan rawan bencana gempa bumi tingkat menengah hingga tinggi.
Berdasarkan informasi BMKG, intensitas guncangan tercatat IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta IV-V MMI di Ende, Labuan Bajo, Maumere dan Sumba Timur.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.