Atlet Olimpiade Ungkap Beratnya Proses Berhenti Menyusui, Ternyata...

Jakarta -

Bagi sebagian Bunda, berhenti menyusui bukan sekadar soal melepas kebiasaan menyusui Si Kecil. Ada perasaan kehilangan, perubahan rutinitas, sampai perubahan kondisi tubuh yang mungkin tidak disangka-sangka.

Hal itu juga dirasakan oleh atlet Olimpiade dan peselancar asal Amertika, Carissa Moore. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu baru-baru ini membagikan pengalaman emosionalnya ketika mengakhiri perjalanan menyusui putrinya, Olena Lililehua.

Moore diketahui menyusui sang putri selama 17 bulan. Ia mengaku bersyukur bisa menjalani perjalanan tersebut selama itu, terutama karena menyusui menjadi salah satu cara dirinya dan sang anak untuk merasa dekat di tengah kesibukannya bepergian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun, ketika waktunya tiba untuk berhenti menyusui, ternyata justru Carissa yang merasa lebih berat. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Carissa Moore akui sedih saat berhenti menyusui

Dalam unggahannya, Carissa menceritakan bahwa dirinya merasa campur aduk ketika harus mengakhiri perjalanan menyusui.

Ia bersyukur tubuhnya mampu memberikan ASI untuk putrinya selama 17 bulan. Baginya, menyusui bukan hanya soal memberikan nutrisi, tetapi juga menjadi momen untuk berhenti sejenak, berdekatan, dan saling menenangkan dengan sang anak.

"Babak ini telah berakhir bagi kami. 17 bulan menyusui. Saya sangat bersyukur kami bisa menjalaninya selama itu dan tubuh saya memungkinkan saya untuk memberikan yang terbaik bagi putri saya dengan cara ini. Rasanya sangat pas, terutama di tengah segala perjalanan dan tempat-tempat baru yang kami kunjungi," ungkap Moore mengawali ceritanya.

"Hal itu menjadi sumber kenyamanan bagi kami berdua. Waktu bagi kami untuk melambat sejenak, menjalin ikatan, dan saling menenangkan satu sama lain. Saya berbohong jika bilang saya tidak sedih. Ada bagian dari diri saya yang antusias bisa kembali memiliki tubuh saya seutuhnya, tetapi saya pasti akan merindukan momen-momen lembut yang hanya kami berdua rasakan itu," lanjut peselancar profesional itu.

Di satu sisi, Carissa mengaku ada bagian dirinya yang merasa senang karena bisa kembali memiliki tubuh untuk dirinya sendiri. Tetapi di sisi lain, ia tahu akan merindukan momen-momen lembut bersama putrinya.

Moore yang kembali berkompetisi dengan gemilang pada bulan Mei dengan meraih kemenangan ke-29 di Championship Tour setelah sempat vakum dari kompetisi penuh waktu usai Olimpiade Paris 2024 demi melahirkan putrinya kemudian menceritakan keraguannya seputar proses menyapih.

"Saya sempat khawatir akan seperti apa momen-momen kebersamaan 'kami' yang baru nanti. Saya pergi selama beberapa hari untuk mempermudah transisi ini. Prinsipnya: jauh dari pandangan, jauh dari ingatan," tulisnya. 

"Lena baik-baik saja saat bersama ayahnya di rumah, sementara saya justru mengalami gejolak emosi yang hebat, haha. Tidak banyak yang membicarakan perubahan hormon yang terjadi saat menyapih. Itu hal yang nyata. Sehari setelah saya pulang, saya pergi membangunkannya di pagi hari. Biasanya kami duduk di kursi goyang; dia menyusu dan bangun perlahan, namun kali ini, dia sama sekali tidak memintanya," lanjut sang peraih banyak medali tersebut. 

Menariknya, sang anak justru terlihat lebih cepat beradaptasi. Carissa sempat pergi selama beberapa hari untuk membantu proses transisi. Ketika kembali, ia mendapati putrinya ternyata tidak lagi meminta menyusu seperti biasanya. Situasi tersebut justru membuat Carissa merasa emosional. Ia mengatakan dirinya merasa seperti kehilangan sesuatu dan ingin mencari cara baru untuk tetap terhubung dengan putrinya.

"Batin saya sempat terasa agak hancur; saya sangat ingin mengisi kekosongan itu dan menjalin ikatan erat dengan putri saya. Saya membaringkannya di atas karpet lalu berbaring meringkuk di sampingnya. Kami bermain dengan boneka-bonekanya, dia berbagi selimut dengan saya, lalu merangkak ke atas tubuh saya dan berbaring di sana," tuturnya.

Meskipun Moore mengakui sempat kesulitan menghadapi masa transisi tersebut, ia akhirnya menemukan cara sederhana: berpelukan, bermain bersama, dan berbaring berdekatan. Bagi Carissa, momen tersebut menjadi pengingat bahwa berhenti menyusui bukan berarti kedekatan antara ibu dan anak ikut berakhir.

Kenapa berhenti menyusui bisa terasa berat?

Cerita Carissa mungkin terasa relate bagi Bunda yang sedang menjalani proses menyapih. Sebab, menyusui memang bukan hanya aktivitas makan. Selama menyusui, tubuh mengalami perubahan hormonal yang berkaitan dengan produksi ASI dan refleks pengeluaran ASI.

Penelitian yang dipublikasikan di Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica menemukan bahwa hormon prolaktin dan oksitosin mengalami perubahan setelah proses menyusui dihentikan. Kadar prolaktin basal, misalnya, turun secara signifikan dalam 24 jam setelah penyapihan.

Oksitosin sendiri sering dikaitkan dengan proses bonding dan rasa nyaman selama menyusui. Jadi, ketika rutinitas menyusui tiba-tiba berubah, wajar jika sebagian Bunda merasakan perubahan emosi.

Namun, bukan berarti setiap Bunda pasti akan mengalami perubahan suasana hati setelah berhenti menyusui. Respons setiap tubuh berbeda.

Yang penting, Bunda tidak perlu merasa aneh jika muncul rasa sedih, kehilangan, mudah menangis, atau emosional selama masa transisi.

Proses berhenti menyusui sebaiknya dilakukan perlahan

Kalau Bunda sudah merasa waktunya menyapih, prosesnya tidak harus dilakukan secara mendadak.

Secara umum, penyapihan bertahap dapat membantu tubuh menyesuaikan produksi ASI sekaligus memberi kesempatan bagi anak untuk beradaptasi dengan perubahan rutinitas.

Mengurangi sesi menyusui secara perlahan juga dapat membantu mengurangi risiko payudara terasa penuh atau tidak nyaman. Proses yang terlalu mendadak dapat membuat payudara mengalami bendungan ASI dan meningkatkan risiko masalah seperti mastitis.

Bunda juga tidak perlu merasa harus mengikuti jadwal penyapihan Bunda lain. Ada yang berhenti menyusui dalam waktu relatif singkat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama.

Setiap perjalanan menyusui memang berbeda.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk berhenti menyusui?

Sebenarnya tidak ada satu usia yang wajib menjadi patokan untuk semua keluarga.

WHO dan UNICEF merekomendasikan bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah usia enam bulan, anak mulai mendapatkan makanan pendamping ASI yang aman dan bergizi, sambil tetap melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.

Artinya, menyusui selama 17 bulan seperti yang dilakukan Carissa masih sejalan dengan rekomendasi tersebut.

Tetapi ketika Bunda akhirnya memutuskan untuk menyapih, keputusan tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi Bunda dan si kecil.

Yang terpenting, prosesnya dilakukan dengan penuh perhatian dan tidak membuat Bunda merasa bersalah.

Berhenti menyusui bukan berarti berhenti dekat dengan anak

Pengalaman Carissa menunjukkan satu hal yang mungkin penting untuk diingat para Bunda: hubungan antara ibu dan anak tidak berhenti ketika ASI berhenti.

Kalau sebelumnya menyusu menjadi momen untuk cuddling, menenangkan diri, atau sebelum tidur, Bunda bisa perlahan menggantinya dengan rutinitas lain. Misalnya, membaca buku bersama, memeluk si kecil sebelum tidur, bermain di lantai, atau sekadar berbaring berdampingan seperti yang dilakukan Carissa bersama putrinya.

Justru, masa menyapih bisa menjadi awal dari bentuk kedekatan baru. Dan kalau Bunda merasa sedih ketika perjalanan menyusui berakhir, itu juga bukan berarti Bunda tidak siap menjadi ibu. Bisa jadi, Bunda hanya sedang mengucapkan selamat tinggal pada satu fase yang sangat berarti.

Seperti yang dialami Carissa, setiap tahap tumbuh kembang anak memang datang dan pergi dengan cepat. Jadi, tidak apa-apa kalau Bunda ingin menikmati pelan-pelan setiap pelukan, sebelum si kecil kembali tumbuh dan memasuki fase berikutnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)