Apakah Ada Cara Mencegah Jadi Korban Deepfake Pornografi?
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Solo diduga menjadi korban deepfake untuk konten pornografi.
Korban diduga kuat menjadi sasaran manipulasi wajah ke dalam foto dan video tidak senohoh. Hasil manipulasi itu kemudian disebarkan oleh terduga pelaku ke Instagram dan Telegram.
"Yang diedit itu wajah korban. Kemudian dipasang pada tubuh orang lain sehingga seolah-olah itu korban, fotonya telanjang bulat, ditemukan di Instagram dan Telegram," kata pengacara korban Zainal Abidin Petir, melansir Detik, Senin (27/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini pun membuat memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pengguna media sosial. Lantas, apakah ada cara mencegah agar tidak menjadi korban deepfake pornografi?
Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengatakan sebetulnya tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang menjadi korban deepfake.
Menurutnya, selama wajah pernah terekam dalam bentuk digital, baik itu lewat media sosial, komputer, maupun kamera pengawas CCT, foto tersebut berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.
"Bagaimana caranya kita mencegah agar wajah kita tidak digunakan sebagai sarana untuk memasang gambar AI? Tidak ada, kecuali wajah kamu tidak pernah muncul di media sosial atau di komputer. Kalau kamu pernah muncul saja, ada di CCTV atau apa saja, wajah kamu bisa didapatkan," kata Alfons saat dihubungi, Rabu (29/7).
Menurut dia AI bukan satu-satunya teknologi yang dapat dipakai untuk memanipulasi wajah seseorang. AI, kata dia, hanya merupakan metode yang saat ini paling populer untuk digunakan.
Meski tidak dapat mencegah sepenuhnya, Alfons menyebut bahwa masyarakat tetap perlu berhati-hati saat membagikan foto pribadi di media sosial. Ia menyarankan agar pengguna tidak oversharing atau membagikan terlalu banyak foto.
Menurut dia, semakin banyak foto yang tersebar di internet, semakin lengkap referensi yang dapat digunakan teknologi AI untuk menghasilkan gambar yang menyerupai wajah asli seseorang.
Ia mencontohkan, hasil foto AI yang diambil dari 1 foto dibanding dengan yang diambil dari 10 hingga 50 foto, maka sumber foto yang lebih banyak dapat menghasilkan manipulasi foto AI yang lebih sempurna.
"Jika Anda memiliki media sosial, Anda bisa mengunggah itu, tapi dalam tingkat yang wajar. Makin banyak foto yang kamu unggah, makin sempurna AI yang akan dihasilkan. Itu yang perlu disadari," tuturnya.
"Jadi, jangan overshare. Atau kalau memang tidak ingin diketahui secara umum, batasi saja siapa saja yang bisa mengakses konten yang kita berikan," lanjut dia.
Segera lapor polisi
Alfons menyebut langkah mahasiswi korban deepfake melaporkan dugaan penyebaran konten deepfake ke kepolisian sudah tepat. Menurutnya, kasus seperti ini tidak boleh didiamkan.
Menurut Alfons, hanya kepolisian yang berwenang menelusuri pelaku hingga meminta data kepada penyedia sistem elektronik untuk mengetahui asal penyebaran konten.
"Kepolisian berhak minta ke penyedia sistem elektronik untuk mendapatkan ini dari media sosial ini, pertama dapatnya dari mana, dan melacak pelakunya, dan memberikan tindakan yang tegas. Itu yang penting," paparnya.
Menurut dia pelaporan ini bisa jadi efek jera bagi pelaku agar tidak sembarangan memanipulasi foto orang lain menjadi konten pornografi.
"Jadi siapapun yang melakukan ini akan mendapatkan tindakan hukum, mendapatkan dampak hukum sesuai dengan ketentuan, supaya mereka tidak main-main," kata dia.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]