Ancaman PHK dan Kenaikan PPN, Ini Dampak Kecemasan Finansial pada Masyarakat
Liputan6.com, Jakarta - Ketidakamanan pekerjaan menjadi salah satu pemicu utama kecemasan finansial. Berbagai penelitian mengklaim bahwa persepsi ketidakamanan pekerjaan dapat berdampak signifikan pada kecemasan finansial karyawan.
Studi yang dilakukan oleh Choi et al. pada tahun 2020 menunjukkan adanya hubungan antara ketidakamanan pekerjaan dan stres finansial yang dimediasi oleh kesejahteraan finansial. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan di mana ketidakpastian pekerjaan memperburuk tekanan keuangan.
Lebih lanjut, dalam konteks pandemi COVID-19 pada tahun 2021 menemukan bahwa ketidakamanan pekerjaan terkait dengan kesejahteraan psikologis melalui stres finansial yang dialami individu. Ketidakpastian ini berfungsi sebagai pemicu stres kronis yang berkelanjutan, ambigu, dan seringkali tidak terkendali.
Selain ketidakamanan pekerjaan, kenaikan PPN juga memiliki pengaruh signifikan terhadap daya beli konsumen. Ini menjadi perhatian serius mengingat dampaknya pada pengeluaran rumah tangga dan stabilitas ekonomi mikro.
Sebuah studi empiris yang diterbitkan dalam Journal of Political Economy menemukan bahwa pemotongan PPN umumnya tidak diteruskan ke harga konsumen. Sebagian besar bisnis cenderung memanfaatkan pemotongan tersebut untuk meningkatkan keuangan mereka daripada menurunkan harga.
Sebaliknya, ketika PPN dinaikkan, hampir semua perusahaan menaikkan harga produk mereka secara substansial, yakni sekitar 80 hingga 120% dari kenaikan tarif PPN. Kenaikan PPN yang tajam juga dapat menyebabkan volatilitas antar-industri dalam metrik pelaporan keuangan perusahaan, bahkan meningkatkan probabilitas kebangkrutan, menurut penelitian Abdulrahman Al-Shammari, Abdullah Al-Shammari, dan Mohammed Al-Shammari pada tahun 2023.
Dampak Mendalam pada Kesehatan Mental dan Fisik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3255029/original/023668600_1601539422-photo-1567427017947-545c5f8d16ad__1_.jpg)
Perbesar
Kecemasan finansial membawa dampak luas pada kesehatan mental dan fisik individu. Stres finansial merupakan salah satu pemicu paling konsisten untuk gejala kecemasan dan depresi pada orang dewasa.
Survei Stress in America tahun 2024 dari American Psychological Association terhadap lebih dari 3.300 orang dewasa AS mengungkapkan bahwa 73% responden menganggap ekonomi sebagai sumber stres yang signifikan. Sebuah studi tahun 2022 dalam Journal of Family and Economic Issues juga mengaitkan kekhawatiran finansial yang lebih tinggi dengan tekanan psikologis yang meningkat di kalangan orang dewasa AS.
Stres finansial yang intens dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, menyebabkan depresi, masalah kardiovaskular, insomnia, hingga perubahan pada sistem kekebalan tubuh. Ketidakpastian ekonomi yang kronis memicu respons stres fisiologis, termasuk peningkatan kortisol berkepanjangan dan disregulasi otonom, yang berkontribusi pada gangguan kecemasan dan tidur.
Selain itu, ketidakpastian yang terkait dengan uang dapat memicu kelelahan keputusan. Otak menafsirkan tuntutan finansial yang tidak dapat diprediksi sebagai ancaman kelangsungan hidup, yang menguras energi dan mengurangi kapasitas untuk memecahkan masalah, seperti yang dijelaskan oleh LifeStance Health.
Kelompok Paling Rentan Terhadap Stres Ekonomi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5142632/original/038875400_1740464918-allef-vinicius-fJTqyZMOh18-unsplash.jpg)
Perbesar
Beberapa kelompok masyarakat menunjukkan kerentanan lebih tinggi terhadap kecemasan finansial di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, sangat terpengaruh.
Penelitian LifeStance menunjukkan bahwa 67% milenial dan 58% Gen Z melaporkan sangat terpengaruh oleh stres finansial. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 49% Gen X dan 41% Baby Boomers. Kesenjangan ini disebabkan oleh faktor seperti tingginya utang mahasiswa, pasar perumahan yang mahal, dan paparan perbandingan finansial di media sosial.
Pekerja di industri yang rentan terhadap kebijakan ekonomi, seperti manufaktur, pertanian, dan ritel, juga menghadapi ketidakamanan pekerjaan yang tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan, depresi, bahkan penggunaan zat, menurut Homewood Health pada tahun 2025.
Asosiasi antara kekhawatiran finansial dan tekanan psikologis juga lebih terasa di antara orang dewasa yang belum menikah, pengangguran, rumah tangga berpenghasilan rendah, dan penyewa. Ini menunjukkan bahwa ketidakpastian finansial memperkuat biaya kesehatan mental dari kekhawatiran uang.
Langkah Mitigasi di Tengah Ketidakpastian Finansial
Meskipun tantangan ekonomi menimbulkan kecemasan, ada langkah-langkah proaktif yang dapat diambil untuk mengelola dan mengurangi dampaknya. Literasi finansial menjadi kunci penting dalam hal ini.
Individu yang memiliki literasi finansial yang baik cenderung lebih efektif dalam merencanakan, menabung, dan mengelola investasi mereka, termasuk untuk masa pensiun, seperti yang ditemukan oleh studi Mitchell & Lusardi pada tahun 2015. Mereka juga lebih mungkin memiliki tabungan darurat, membuat mereka lebih tangguh menghadapi krisis ekonomi.
Perencanaan keuangan yang jelas juga semakin penting untuk membantu keluarga menavigasi masa depan yang tidak pasti. Memprioritaskan pengeluaran, menyesuaikan anggaran, dan tetap fokus pada tujuan finansial dapat membantu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi.
Apabila kekhawatiran finansial mulai mengganggu tidur, nafsu makan, atau fungsi sehari-hari selama lebih dari dua minggu, atau memicu gejala panik, mencari bantuan profesional sangat dianjurkan. Dukungan dari klinisi dapat membuat perbedaan signifikan dalam mengatasi tekanan ini, seperti disarankan oleh Boston 25 News pada tahun 2026.