Akademisi UNAND paparkan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer
Akademisi UNAND paparkan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer
Jumat, 7 Agustus 2026 17:54 WIB
Akademisi dari Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat Yulizawati (paling kanan). ANTARA/HO-Pribadi
Jakarta (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat Yulizawati memaparkan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer pada oral presentasi berjudul “Strengthening Primary Health Care Through Community Empowerment and Cross-Sector Collaboration: A Community Engagement Initiative in Padang, Indonesia pada International Conference on Health Sciences (ICHS) yang diselenggarakan oleh UIN Syarfi Hidayatullah Jakarta.
Konferensi ini merupakan wadah global bagi para akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, tokoh agama, ahli teknologi, dan mitra pembangunan untuk terlibat dalam dialog lintas disiplin serta pertukaran pengetahuan. Mengusung tema “Inovasi Teknologi Kesehatan, Religiusitas, dan Kolaborasi Multisektoral: Mendorong Pemerataan dan Keberlanjutan Kesehatan menuju SDGs,” konferensi ini berupaya mengeksplorasi pendekatan integratif yang memadukan inovasi ilmiah, nilai-nilai etika, dan tata kelola kolaboratif dalam memperkuat sistem kesehatan yang tangguh dan inklusif.
Pelayanan kesehatan yang kuat tidak selalu dimulai dari rumah sakit besar atau teknologi kesehatan yang canggih. Dalam banyak kasus, perubahan justru berawal dari lingkungan terdekat Masyarakat melalui edukasi kesehatan, pemberdayaan keluarga, serta layanan primer yang hadir dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Persoalan kesehatan ibu dan anak, pemantauan tumbuh kembang, gizi, penyakit tidak menular, hingga kesenjangan akses layanan menunjukkan bahwa pendekatan pelayanan kesehatan tidak lagi dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, terintegrasi, dan berkelanjutan. Di sinilah pentingnya penguatan pelayanan kesehatan primer. Pelayanan primer bukan hanya tempat masyarakat memperoleh pengobatan, tetapi menjadi ruang edukasi, pencegahan, deteksi dini, serta pendampingan kesehatan sepanjang siklus kehidupan.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pentingnya community education atau pendidikan masyarakat sebagai proses berkelanjutan yang mendorong kesadaran dan partisipasi warga dalam menjaga kesehatan. Edukasi tidak lagi dipahami sebagai penyampaian informasi satu arah, tetapi sebagai upaya membangun pemahaman bersama mengenai kebutuhan dan potensi kesehatan di tingkat komunitas.
Selain itu, pemberdayaan perempuan juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kesehatan. Perempuan, khususnya ibu dan tenaga kesehatan seperti bidan memiliki posisi strategis dalam membentuk perilaku kesehatan keluarga dan masyarakat. Ketika perempuan memiliki pengetahuan, ruang untuk berpartisipasi, dan akses terhadap layanan kesehatan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga komunitas secara luas. Hal ini sesuai dengan target SDG’s 5 (Gender Equality).
Dalam konteks Indonesia, penguatan layanan primer melalui Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadi langkah yang relevan. Pendekatan ini menekankan integrasi antara puskesmas, posyandu, jejaring layanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat agar pelayanan menjadi lebih dekat, terhubung, dan mampu menjangkau seluruh kelompok usia.
Namun, keberhasilan transformasi layanan kesehatan tidak cukup hanya dengan kebijakan. Dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, penguatan kapasitas kader dan tenaga kesehatan, serta sinergi yang konsisten antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kesehatan masyarakat pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan semata. Ia adalah hasil dari kolaborasi, edukasi, dan pemberdayaan yang dilakukan secara terus-menerus. Ketika komunitas menjadi bagian dari solusi, maka pelayanan kesehatan tidak hanya hadir untuk masyarakat tetapi tumbuh bersama masyarakat.
Program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan terpadu, kunjungan rumah, dan forum kemitraan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai pemanfaatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (Posyandu ILP), keluarga berencana, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita. Intervensi juga meningkatkan perilaku masyarakat pada aspek keluarga berencana dan pemantauan pertumbuhan serta perkembangan balita, meskipun perubahan perilaku dalam pemanfaatan Posyandu ILP belum menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik.
Selain meningkatkan kapasitas masyarakat, program ini berhasil memperkuat komitmen kemitraan lintas sektor sebagai fondasi penting bagi keberlanjutan implementasi Posyandu ILP. Model pemberdayaan masyarakat yang diterapkan berpotensi direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik serupa untuk mendukung penguatan pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada masyarakat.
Ucapan terima kasih disampaikan atas pendanaan kegiatan oral presentasi dari Dana Abadi Pendidikan Indonesia (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Indonesia dan dikelola di bawah the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).
Pewarta : Andriy Karantiti
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026