Akademisi sebut pertambangan dan perkebunan sawit ancam kelekak di Babel - ANTARA News Bangka Belitung

Pangkalpinang (ANTARA) - Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung Iskandar menyebutkan pertambangan timah dan perluasan perkebunan kelapa sawit secara masif di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengancam keberlangsungan dan keberadaan hutan kelekak di daerah itu.

"Hingga saat ini pertambangan dan perkebunan kelapa sawit menjangkau hampir di seluruh hutan kelekak perdesaan," kata Iskandar dalam diskusi Menata Ulang Masa Depan Kelekak Sebagai Strategi Adaptasi Perubahan Iklim dan Pemulihan Ekosistem Babel secara daring melalui zoom di Pangkalpinang, Kamis.

Ia mengatakan kegiatan diskusi Menata Ulang Masa Depan Kelekak Sebagai Strategi Adaptasi Perubahan Iklam dan Pemulihan Ekosistem Babel yang digelar Kelompok Riset (KelRis) Pengelolaan Lanskap Antropogenik Pusat Riset Ekologi BRIN Ke-IV #Jamming Session Kesebelas (#JS11) Tahun 2026, guna menjaga kelekak sebagai keseimbangan alam dan ketahanan pangan di daerah itu.

"Hasil kajian dan penelitian kami dalam konteks lanskap perkebunan terutama kelapa sawit yang sudah sangat ekspansif, sehingga sudah mengancam keberadaan hutan kelekak di hampir seluruh titik perdesaan di daerah ini," katanya.

Ia menjelaskan saat ini telah terjadi perubahan struktur sosial dan ekologi ekonomi kelekak. Masyarakat dihadapkan dua pilihan, yakni mempertahankan ekonomi subsisten atau tertutup dan kolektivitas, atau ekonomi perkebunan yang kapitalis dan terbuka.

Perubahan komodifikasi ekologi dimana fenomena mempertahankan kelekak sebagai strategi perlawanan kultural. Namun, di sisi lain menjadikan kelekak sebagai alternatif baru kesejahteraan komunitas.

"Dulu pengelolaan hutan kelekak ini sebagai konservasi alam dan tanaman di kelekak ini sengaja ditanam, dan nenek moyang sengaja menanam di ume (ladang atau kebun-red) untuk mengalihkan perhatian kera dan lutung serta dinikmati oleh anak cucu," ujarnya.

Menurut dia, salah satu contohnya adalah kelekak di Ketap, Kabupaten Bangka Barat, setiap musim panen durian di hutan kelekak, maka setiap anak dapat hak dan giliran yang sama untuk menunggu. 

"Pada panen durian tiba di kelekak itu, anak pertama menunggu malam pertama, berikutnya malam kedua sampai giliran anak terakhir, dan kembali ke anak pertama atau secara siklus hingga musim durian berakhir," katanya.

Kelekak adalah akronim dalam Bahasa Bangka Belitung yang memiliki arti kelak kek ikak atau nanti untuk kalian. Jadi kelekak adalah hutan atau lahan yang ditanami buah-buahan, sayuran atau tanaman produktif lainnya, yang harus dijaga karena nanti akan diwariskan kepada generasi berikut secara turun-temurun.

"Kelekak ini merupakan kearifan lokal masyarakat Bangka Belitung berupa kawasan kebun buah atau hutan dusun campuran warisan leluhur yang dikelola secara turun temurun dan kelekak berasal dari akronim "kelak kek ikak" atau nanti untuk kamu atau anak cucu," ujarnya.

Pewarta: Aprionis
Editor : Feny Aprianti

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.