Adu Kinerja 10 Bank Besar, Ini Bank dengan Pertumbuhan Laba Tertinggi di Semester I

ILUSTRASI. Nasabah Menarik Uang Tunai di ATM bank Mandri (KONTAN/Baihaki)

Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja 10 bank besar pada semester I-2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan biaya dana dan kondisi likuiditas yang relatif ketat. Mayoritas bank mampu membukukan pertumbuhan laba dan kredit, dengan BTN menjadi jawara pertumbuhan laba, sementara BRI mencatat laba terbesar.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, dari 10 bank besar yang terdiri dari Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, CIMB Niaga, Bank Permata, Bank Danamon, Bank OCBC NISP, Bank Syariah Indonesia (BSI), dan BTN, sembilan bank mencatat pertumbuhan laba secara tahunan. Hanya CIMB Niaga yang membukukan kontraksi laba.

BTN mencatat pertumbuhan laba paling tinggi, yakni 40,80% year on year (yoy) menjadi Rp 2,40 triliun pada semester I-2026, dari Rp 1,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Kritis Hadapi Informasi, Benteng Pertama agar Merdeka dari Penipuan Finansial

Di posisi kedua, Bank Danamon mencatat laba Rp 2,39 triliun atau tumbuh 33,05% yoy. Selanjutnya, Bank Mandiri membukukan laba Rp 30,41 triliun, melonjak 24,36% yoy dari Rp 24,46 triliun.

Sementara itu, BRI membukukan laba Rp31,18 triliun atau tumbuh 17,53% yoy dari Rp26,53 triliun. Capaian tersebut menjadikan BRI sebagai bank dengan nominal laba terbesar dalam kelompok 10 bank besar.

BSI menyusul dengan pertumbuhan laba 11,09% yoy menjadi Rp4,16 triliun. Adapun laba BNI naik 6,56% menjadi Rp10,76 triliun, OCBC NISP tumbuh 6,39% menjadi Rp2,73 triliun, dan Bank Permata naik 4,50% menjadi Rp1,72 triliun.

BCA hanya mencatat pertumbuhan laba sebesar 1,72% yoy menjadi Rp29,5 triliun. Di sisi lain, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BCA turun 0,6% yoy menjadi Rp42,4 triliun.

Satu-satunya bank yang mencatat penurunan laba adalah CIMB Niaga. Laba CIMB Niaga turun tipis 0,55% yoy menjadi Rp 3,44 triliun dari Rp3,46 triliun.

Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit juga masih menjadi penopang kinerja perbankan. BRI mencatat pertumbuhan kredit 16,16% yoy menjadi Rp1.646 triliun.

BSI menyusul dengan pertumbuhan kredit 15,98% menjadi Rp340,09 triliun, sementara kredit Bank Danamon tumbuh 11,81% menjadi Rp230,10 triliun.

Baca Juga: Tiga Saham Big Banks Menguat, Hanya Satu yang Turun Ini Rekomendasi Sahamnya

BTN mencatat pertumbuhan kredit 11,17% menjadi Rp418,11 triliun dan BCA tumbuh 8,03% menjadi Rp1.036 triliun. Adapun kredit Bank Mandiri melonjak 19,90% yoy menjadi Rp1.592 triliun.

Dari sisi pendanaan, BSI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 21,81% yoy menjadi Rp393,34 triliun. BNI mencatat pertumbuhan DPK 22,26% menjadi Rp1.100 triliun.

Sementara DPK BRI tumbuh 6,65% menjadi Rp1.581 triliun dan Bank Mandiri meningkat 17,14% menjadi Rp 1.710 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, pertumbuhan laba BRI terutama ditopang oleh perbaikan struktur pendanaan, pertumbuhan kredit, serta peningkatan fee based income.

Menurut Hery, pendapatan bank pada dasarnya berasal dari net interest income (NII) dan pendapatan berbasis komisi. Karena itu, kemampuan bank menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan kinerja.

"Revenue bank itu didrive dari yang namanya net interest income dan fee based income. Bank ini sebenarnya lembaga intermediasi, fungsinya memobilisasi dana masyarakat dan menyalurkan dalam bentuk pembiayaan atau kredit," ujar Hery dalam paparan kinerja BRI, Senin (31/8/2026).

Hery menjelaskan, melalui transformasi BRIVolution Reignite, BRI fokus memperbaiki struktur pendanaan, khususnya dengan meningkatkan porsi dana murah atau current account and savings account (CASA).

Baca Juga: Sinar Mas Multiartha (SMMA) Jadi Pemegang Saham Minoritas Generali Syariah

Strategi tersebut dilakukan dengan memperkuat transaction banking. Menurut dia, pertumbuhan dana murah akan lebih optimal apabila rekening operasional dan aktivitas transaksi nasabah berada di BRI.

BRI pun terus meningkatkan kapabilitas BRImo, termasuk dari sisi tampilan dan fitur, untuk mendorong nasabah semakin aktif bertransaksi. Semakin besar volume dan frekuensi transaksi, semakin besar pula peluang peningkatan saldo nasabah di BRI.

Selain pendanaan, pertumbuhan kredit menjadi faktor penting. BRI tetap mempertahankan fokus pada UMKM dengan porsi lebih dari 75% dari total portofolio kredit dan pembiayaan.

Hingga Juni 2026, kredit dan pembiayaan konsolidasian BRI mencapai Rp1.646 triliun atau tumbuh 16,2% yoy. Sekitar 75,1% atau Rp1.235,4 triliun disalurkan kepada segmen UMKM.

BRI juga mendorong pertumbuhan pendapatan nonbunga melalui transaksi, biaya administrasi, dan aktivitas transaksi lainnya. Kombinasi ketiga faktor tersebut akhirnya menopang pertumbuhan laba konsolidasi BRI sebesar 17,5% yoy.

Adapun, Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan, pertumbuhan laba perusahaan merupakan hasil dari ekspansi kredit yang sehat dan terarah.

Menurut dia, penyaluran kredit difokuskan pada sektor produktif dan padat karya sehingga turut mendorong penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Manulife Syariah Siapkan Strategi Dongkrak Kinerja di Tengah Tantangan Industri

Sementara itu, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pertumbuhan kredit BCA ditopang ekspansi pembiayaan produktif di berbagai sektor dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

Kinerja tersebut turut didukung sejumlah inisiatif, termasuk BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif.

Jika dilihat, secara year to date (ytd) kinerja saham bank himbara seperti BBNI, BBRI, dan BMRI masih turun tajam berbanding terbalik dengan kinerja fundamentalnya yang positif di semester I-2026. BBRI misalnya secara ytd kinerja sahamnya terjun 11,20%, BBNI turun 11,67%, BMRI susut 17,06%, BRIS anjlok 20,40%. Berbeda dengan BBTN yang masih mencatat kenaikan 5,53% ytd.

Adapun BBCA secara ytd sahamnya terjun 19,81%, BNGA susut 5,87%, BNLI anjlok 58,25%, NISP susut 9,49%, sementara BDMN secara ytd sahamnya melesat 74,09%,  

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai, kinerja 10 bank besar pada semester I-2026 secara umum masih solid dan resilien.

Namun, perbankan masih menghadapi tekanan pada net interest margin (NIM) akibat biaya dana dan kondisi likuiditas yang relatif ketat.

Menurut Nafan, sentimen terhadap sektor perbankan masih positif karena pertumbuhan kredit tetap berada di level dua digit dan kualitas aset relatif terjaga. Dalam sumber yang digunakan, pertumbuhan kredit industri perbankan Juni 2026 disebut mencapai 12,67% yoy, sementara DPK tumbuh 10,21% yoy.

Meski demikian, kondisi fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin pada harga saham, terutama saham bank Himbara.

Baca Juga: KBank Indonesia Targetkan Portofolio Pinjaman Tembus Rp 40 Triliun pada 2030

Nafan melihat tekanan saham Himbara sepanjang tahun antara lain dipicu aksi jual investor asing, ketidakpastian suku bunga global, serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Saham perbankan Himbara yang memiliki kapitalisasi pasar besar dinilai menjadi salah satu yang paling terdampak ketika investor asing mengurangi eksposur di pasar Indonesia.

Selain itu, suku bunga tinggi turut meningkatkan cost of fund. Pada saat bersamaan, bank BUMN dinilai memiliki ruang terbatas untuk langsung meneruskan kenaikan biaya dana tersebut kepada debitur, khususnya pada sektor-sektor prioritas.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan NIM dan perlambatan pertumbuhan laba ke depan.

Nafan menilai, fundamental bank besar sebenarnya mulai berkonvergensi dengan pergerakan saham, meski belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi.

Ia melihat masih ada ruang rerating apabila pasar memperoleh konfirmasi mengenai perbaikan pertumbuhan kredit, NIM, kualitas aset, dan profitabilitas.

Untuk semester II hingga akhir 2026, Nafan masih melihat peluang kinerja bank besar meningkat, meski secara lebih selektif dan gradual. Katalisnya antara lain pertumbuhan kredit, potensi stabilisasi atau penurunan biaya dana, perbaikan NIM, normalisasi credit cost, serta peluang pelonggaran kebijakan moneter.

"Karena itu, saya melihat prospek sektor perbankan sampai akhir tahun tetap konstruktif, dengan preferensi kepada bank yang memiliki franchise dana murah kuat, kualitas aset baik, dan kemampuan menjaga NIM," kata Nafan.

Baca Juga: KBank Indonesia Targetkan Portofolio Pinjaman Tembus Rp 40 Triliun pada 2030

Untuk rekomendasi saham, Nafan memberikan rekomendasi accumulative buy BBCA dengan target harga Rp7.900, BBNI Rp4.020, BBRI Rp3.440 dan BMRI Rp4.720.

Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki juga menilai, kinerja bank-bank besar pada semester I-2026 secara umum masih solid, meski menghadapi tantangan likuiditas ketat dan era suku bunga tinggi.

Menurut Yaki, sejumlah sentimen positif datang dari ekspansi kredit sektor riil dan korporasi, efisiensi digital serta pertumbuhan fee based income, dan kualitas aset yang masih terjaga.

Namun, pergerakan saham Himbara masih dibayangi foreign outflow serta persepsi risiko terhadap arah kebijakan pemerintah dan potensi penugasan kepada bank BUMN untuk mendukung sektor-sektor prioritas.

Tekanan suku bunga juga masih menjadi perhatian karena dapat meningkatkan cost of fund perbankan.

Meski demikian, Yaki melihat masih terdapat peluang perbaikan kinerja pada semester II-2026 apabila muncul katalis positif.

Salah satunya adalah potensi pelonggaran moneter pada kuartal IV-2026 yang dapat menekan cost of fund dan membuka ruang bagi ekspansi NIM.

Selain itu, pertumbuhan kredit korporasi, konsumer, sektor riil dan infrastruktur diperkirakan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Normalisasi biaya pencadangan juga berpotensi menjadi tambahan penopang laba apabila kualitas aset tetap sehat.

Baca Juga: Manulife Syariah Indonesia Bukukan Aset Rp1,83 Triliun hingga Juli 2026

Namun, Yaki mengingatkan risiko likuiditas masih perlu dicermati. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK dapat membuat loan to deposit ratio (LDR) semakin tinggi dan mendorong bank kembali menaikkan bunga deposito untuk mempertahankan dana.

Untuk pilihan saham, Yaki merekomendasikan BBNI buy dengan target Rp5.690, BBRI hold Rp4.400, BMRI buy Rp6.500, serta BBCA trading buy Rp7.450.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News