9 Ciri Orang EQ Tinggi dari Cara Hadapi Konflik Keluarga Menurut Psikolog

Kemampuan emosional berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri, empati, motivasi, dan kemampuan sosial. Dengan melatih kemampuan emosional, seseorang dapat menjalin komunikasi dengan lebih baik, pengambilan keputusan yang lebih baik, memiliki kesadaran yang lebih baik, serta memiliki empati yang lebih banyak untuk orang lain.

Ciri orang yang memiliki EQ tinggi dapat dilihat dari berbagai aspek. Salah satu ciri orang yang memiliki EQ tinggi dapat dilihat dari cara menghadapi konflik keluarga. Yuk, Bunda, simak informasi selengkapnya.

Ini dia beberapa ciri orang dengan EQ tinggi berdasarkan cara menghadapi konflik keluarga. Ciri-ciri orang dengan EQ tinggi ini disusun berdasarkan pemaparan psikolog.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. Bersikap tenang di tengah kemarahan orang lain

Salah satu ciri orang dengan EQ tinggi yaitu berusaha tetap tenang walaupun lawan bicaranya meninggikan suara. Kebiasaan ini menunjukkan regulasi emosi yang baik.

Menurut Psikolog, Dr Sanam Hafeez, ini berarti seseorang tidak membiarkan emosi kemarahan orang lain memengaruhi dirinya atau suasana sekitar. Bersikap tenang pada saat lawan bicara meninggikan suara atau marah, itu mencegah pertengkaran semakin parah.

2. Memberi jeda sebelum bereaksi

Saat berada dalam konflik keluarga, ucapan atau tindakan lawan bicara tidak jarang memicu seseorang untuk bereaksi. Namun, reaksi ini adalah hal yang sangat sensitif karena akan mempengaruhi apakah konflik dapat berakhir baik atau sebaliknya.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional umumnya berusaha menahan diri untuk tidak berteriak atau beraksi berlebihan saat konflik terjadi.

Tidak bisa dimungkiri bahwa ada godaan untuk meninggikan suara, tetapi ciri orang dengan EQ tinggi salah satunya adalah berjuang secara internal untuk memberi jeda sebelum bereaksi.

Sama seperti poin sebelumnya, memberi waktu jeda kepada diri sendiri sebelum bereaksi juga dapat membantu mencegah pertengkaran menjadi lebih buruk.

3. Menghindari distraksi saat konflik terjadi

Orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik umumnya memperhatikan lawan bicara saat berselisih. Orang dengan EQ tinggi dapat menjauhkan segala distraksi seperti ponsel atau gangguan lainnya yang dapat memecah perhatian.

Mengutip dari laman Parade, dalam kebiasaan ini juga tersirat sikap menghargai lawan bicara, meskipun dalam konflik keluarga sekali pun.

4. Menyelesaikan masalah secara personal, tidak di hadapan umum

Ciri orang yang mempunyai EQ atau kecerdasan emosional tinggi adalah tidak mempublikasikan masalah di hadapan banyak orang. Orang dengan EQ tinggi tahu waktu dan tempat untuk membahas konflik secara personal. Ia menunggu momen yang tepat untuk berbicara.

Hal ini juga menjadi cara cerdas mengurangi rasa malu atau defensif dari lawan bicara. Selain itu, menjadi tanda bahwa seseorang sedang memikirkan emosi orang lain, tidak hanya emosi pribadi.

5. Tahu kapan harus menghadapi konflik

Seseorang dengan EQ tinggi tahu kapan harus menghadapi konflik. Ia tidak selalu mendorong dirinya untuk terlibat dalam semua perselisihan yang ada. Tetapi, menimbang-nimbang kapan ia harus terlibat dalam konflik.

Kemampuan memilah kapan harus terlibat dalam konflik menunjukkan banyaknya pengalaman. Pengalaman ini kemudian membentuk perspektif untuk memilih pertarungan seperti apa yang harus dihadapi.

6. Mempertimbangkan perspektif generasi muda

Konflik keluarga dapat terjadi tanpa pandang usia. Hal ini bisa terjadi antara pasangan, kakak beradik, atau orang tua dengan anak. Oleh karena itu, mendengarkan sudut pandang dari orang yang lebih muda menjadi hal yang baik untuk dilakukan.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi memiliki kerendahan hati. Sehingga, ia tidak berusaha selalu menyelesaikan masalah sesuai dengan caranya sendiri.

Sebaliknya, ia akan menerapkan komunikasi dua arah agar permasalahannya dapat diselesaikan dengan baik, meskipun dengan orang yang lebih muda sekali pun.

Selain menunjukkan kerendahan hati, sikap ini juga menandakan bahwa seseorang berusaha memahami permasalahan secara keseluruhan.

Dengan demikian, ini dapat meningkatkan kedekatan, pemahaman, dan mengurangi konflik yang terjadi.

7. Merefleksi peran dalam konflik

Melanjutkan poin sebelumnya, seseorang dengan EQ tinggi memiliki kesadaran diri bahwa tidak ada yang sempurna, tanpa memandang usia, bahkan posisi dalam keluarga.

Orang yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik dapat mengakui saat mereka salah, tidak peduli usia. Kerendahan hati ini dapat melancarkan jalan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga.

8. Menatap mata anggota keluarga

Menurut Psikologi, Dr. Deborah Vinall, Psy.D., LMFT, menatap mata anggota keluarga merupakan hal yang penting saat berkonflik. Tidak hanya saat berkonflik sebenarnya, tetapi juga pada momen-momen menyenangkan.

Menatap mata anggota keluarga saat berkonflik dapat membantu meningkatkan empati. Selain itu, kontak mata juga menandakan bahwa seseorang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian dan dapat melihat reaksi dan emosi yang ditunjukkan lawan bicara.

9. Berusaha menjaga keutuhan dalam kondisi sulit

Pertengkaran dengan keluarga tidak jarang menimbulkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan. Konflik keluarga memang tidak selalu mudah diselesaikan.

Namun, orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi berusaha memperbaiki hubungan. Selain itu, ia juga akan berusaha mempertahankan keharmonisan dan perdamaian dengan anggota keluarga.

Demikian ciri orang yang tinggi EQ berdasarkan cara menghadapi konflik keluarga. Meskipun tidak selalu mudah untuk diterapkan, tetapi menurut psikolog ini bisa ditingkatkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)