6 Kebiasaan Atlet di Hari Istirahat yang Bisa Ditiru Agar Tetap Bugar
CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 06:00 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketika membayangkan kehidupan seorang atlet elite, banyak orang mungkin langsung terpikir sesi latihan berat, pertandingan, hingga menu makan yang ketat. Padahal, rahasia performa mereka tidak hanya dibangun saat bertanding, tetapi juga pada hari-hari ketika tubuh beristirahat.
Momentum jeda latihan atau recovery day justru menjadi bagian penting dalam menjaga kebugaran, mempercepat pemulihan, sekaligus mempersiapkan tubuh menghadapi latihan berikutnya. Kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten pada hari istirahat inilah yang menjadi fondasi performa para atlet kelas dunia.
Vice President of Health and Wellness Herbalife, Luigi Gratton mengatakan keberhasilan atlet tidak ditentukan oleh apa yang mereka lakukan saat pertandingan, melainkan oleh rutinitas yang dijalankan secara disiplin setiap hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun di bidang nutrisi performa olahraga, yang membedakan atlet elite bukanlah sesuatu yang spektakuler. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bahkan saat hari istirahat atau jeda kompetisi, menjadi fondasi keberhasilan mereka," ujar Luigi dalam keterangannya.
Menariknya, kebiasaan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi atlet profesional. Siapa pun dapat menerapkannya untuk menjaga kesehatan, meningkatkan energi, dan memperbaiki kualitas hidup sehari-hari.
Berikut sejumlah kebiasaan atlet elite saat hari istirahat yang patut ditiru:
Bagi atlet profesional, protein bukan hanya dikonsumsi setelah berolahraga. Asupan protein justru dibagi merata sepanjang hari untuk membantu proses pemulihan otot.
Pilihan Redaksi
- Benarkah Cokelat Baik untuk Kesehatan Jantung?
- 10 Kebiasaan Makan yang Merusak Lambung, Jangan Dianggap Sepele
- 10 Kali Ditolak Cinta, Pria Ini Pangkas Berat Badan Sampai 40 Kg
Luigi menjelaskan, atlet umumnya mengonsumsi sekitar 20-40 gram protein setiap tiga hingga empat jam, dengan target sekitar 30 gram sebelum atau setelah latihan. Sumbernya bisa berasal dari telur, yogurt Yunani, ayam, ikan, hingga protein shake.
Kebiasaan ini juga baik diterapkan masyarakat umum karena protein membantu mempertahankan massa otot, mendukung sistem imun, membentuk enzim dan hormon, sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.
2. Menyesuaikan karbohidrat dengan aktivitas
Atlet elite tidak menghindari karbohidrat. Sebaliknya, mereka mengatur jumlahnya sesuai intensitas aktivitas fisik. Setelah latihan berat, mereka biasanya mengonsumsi sekitar 50-75 gram karbohidrat dalam satu jam pertama setelah berolahraga. Sumbernya bisa berupa roti, sereal, yogurt, susu cokelat, maupun granola bar.
Sebaliknya, saat memasuki hari istirahat atau aktivitas ringan, jumlah karbohidrat akan disesuaikan agar kebutuhan energi tetap seimbang. Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hari dengan aktivitas tinggi membutuhkan asupan energi yang berbeda dibandingkan hari ketika tubuh lebih banyak beristirahat.
3. Menjaga tubuh tetap terhidrasi
Hidrasi menjadi salah satu aspek yang paling diperhatikan atlet profesional, bahkan ketika tidak sedang berlatih. Luigi menyarankan kebutuhan cairan harian disesuaikan dengan berat badan. Selain itu, setiap satu jam aktivitas fisik yang memicu banyak keringat memerlukan tambahan cairan sekitar 20-30 ons.
Menunggu rasa haus muncul bukanlah strategi yang tepat karena rasa haus menandakan tubuh sudah mulai mengalami kekurangan cairan. Pada aktivitas dengan intensitas tinggi atau cuaca panas, tubuh juga membutuhkan elektrolit seperti natrium dan kalium agar keseimbangan cairan tetap terjaga.
4. Menjadikan tidur sebagai bagian latihan
Tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam merupakan bagian penting dari program latihan atlet elite. Saat tidur, tubuh memperbaiki jaringan otot, melepaskan hormon pertumbuhan, memulihkan sistem saraf, hingga memperkuat daya ingat dan proses belajar.
Kurang tidur bukan hanya menurunkan performa olahraga, tetapi juga membuat tubuh lebih rentan sakit dan memperlambat proses pemulihan. Efek serupa juga dapat dirasakan oleh masyarakat umum.
5. Rutin mengonsumsi buah dan sayuran berwarna gelap
Menu harian atlet hampir selalu diisi buah dan sayuran berwarna gelap yang kaya antioksidan. Beberapa di antaranya adalah buah beri, sayuran hijau, bit, ceri, anggur merah, kubis ungu, dan paprika berwarna gelap.
Kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral di dalamnya membantu mengendalikan peradangan, memperkuat sistem kekebalan tubuh, sekaligus mendukung proses pemulihan setelah beraktivitas.
6. Tetap bergerak meski sedang istirahat
Hari istirahat bukan berarti seharian bermalas-malasan di sofa. Atlet elite biasanya tetap melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, bersepeda santai, yoga, peregangan, atau foam rolling.
Aktivitas tersebut membantu melancarkan sirkulasi darah sehingga proses pemulihan otot berlangsung lebih optimal. Selain itu, pemulihan aktif juga membantu menurunkan risiko kelelahan kronis, overtraining, dan cedera. Bagi atlet profesional, hari istirahat bukanlah jeda dari latihan, melainkan bagian penting dari keseluruhan program latihan.
(tis/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]