5 Kegagalan Terbesar Tim Cook Selama 15 Tahun Pimpin Apple
Daftar Isi
Jakarta -
Tim Cook resmi menanggalkan jabatannya sebagai CEO Apple dan menyerahkan kepemimpinan kepada John Ternus setelah 15 tahun menjabat.
Di bawah kendali Cook, Apple memang berhasil melipatgandakan kapitalisasi pasarnya hingga menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Namun, perjalanannya tidak sepenuhnya dihiasi cerita sukses--terdapat sejumlah blunder besar, proyek mangkrak, hingga skandal hukum yang mewarnai masa jabatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Apple Vision Pro
Di ranah perangkat wearable, Apple Vision Pro yang dirilis pada 2024 menjadi pertaruhan besar Cook yang dinilai gagal di pasar massal. Dijual dengan harga fantastis USD 3.499 (sekitar Rp 55 juta), headset AR/VR ini sepi peminat.
Akibat penjualan yang terus merosot, Apple terpaksa memangkas angka produksi secara drastis pada akhir 2025, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada divisi terkait, serta membubarkan tim khusus pengembang game untuk Vision Pro.
2. Proyek Mobil Listrik
Ambisi Apple untuk menembus industri otomotif lewat mobil otonom Project Titan berujung sia-sia. Setelah menggodok proyek rahasia ini sejak 2014 dan membakar anggaran lebih dari USD 10 miliar (sekitar Rp 157 triliun), Cook akhirnya resmi mematikan proyek mobil listrik tersebut pada 2024 dan membubarkan sekitar 2.000 karyawan yang terlibat.
3. Drama Siri dan Apple Intelligence
Siri yang diperkenalkan Cook pada awal masa kepemimpinannya dinilai tertinggal jauh dibandingkan asisten digital pesaing. Upaya Apple untuk merombak Siri menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Apple Intelligence) justru diwarnai drama penundaan berkali-kali.
Selain harus mengganti pimpinan divisi AI, Apple bahkan harus membayar ganti rugi sebesar USD 250 juta atas tuduhan menyesatkan konsumen terkait kemampuan AI Siri. Asisten suara pintar tersebut baru dijadwalkan meluncur penuh pada akhir tahun ini dengan sokongan model AI buatan Google Gemini.
4. Monopoli App Store
Sikap keras Apple di bawah kepemimpinan Cook dalam mempertahankan komisi dan kendali penuh atas App Store memicu perselisihan hukum masif.
Perseteruan sengit dengan Epic Games yang berujung pada penarikan game Fortnite, hingga tekanan regulasi ketat dari Digital Markets Act (DMA) Uni Eropa, menyoroti betapa bergantungnya Apple pada pendapatan App Store meski harus mengorbankan hubungan baik dengan para pengembang aplikasi.
5. Peluncuran Apple Maps
Ketika pertama kali diluncurkan pada 2012 untuk menggantikan Google Maps, Apple Maps diwarnai bug parah, data lokasi yang hilang, hingga penandaan tempat yang ngawur di berbagai kota besar dunia.
Blunder ini sangat fatal hingga memaksa Tim Cook menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik. Meskipun Apple Maps kini telah bertransformasi menjadi aplikasi navigasi yang sangat andal, peluncuran awalnya tetap dicatat sebagai salah satu blunder teknis terbesar Apple.
Tugas Tersisa: Menjaga Kompromi Politik
Selain kegagalan produk, kepemimpinan Cook juga kerap dikritik akibat kompromi politiknya dengan Presiden AS Donald Trump demi menyelamatkan Apple dari jeratan tarif impor.
Langkah-langkah kontroversial--seperti memberikan cenderamata plak kaca berbalut emas 24 karat kepada Trump--dinilai kerap bertolak belakang dengan nilai-nilai keragaman dan lingkungan yang diusung Apple.
Meski kini telah melepas kursi CEO dan bertransisi menjadi Executive Chairman, Tim Cook dipastikan masih akan terus memegang peran kunci sebagai negosiator politik utama Apple di panggung diplomasi global, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (4/9/2026).
(asj/asj)
TAGS
LIHAT LAINNYA