30 Agustus 1918: Lenin Ditembak Dua Kali dalam Upaya Pembunuhan
Pasca Revolusioner Februari (dinamakan ini karena Rusia menggunakan kalender Julian), kekuasaan dibagi antara Pemerintah Provinsi yang tidak efektif dan soviet, atau “dewan,” yang terdiri dari komite-komite tentara dan pekerja.
Setelah terjadinya Revolusi Februari, pihak berwenang Jerman mengizinkan Lenin dan para letnannya melintasi Jerman dalam perjalanan dari Swiss menuju Swedia menggunakan gerbong kereta api tertutup.
Berlin berharap (dengan tepat) bahwa kembalinya para sosialis antiperang ke Rusia akan melemahkan upaya perang Rusia yang saat itu masih berlanjut di bawah Pemerintah Provinsi. Lenin menyerukan agar soviet menggulingkan Pemerintah Provinsi, dan ia dikecam sebagai “agen Jerman” oleh para pemimpin pemerintahan tersebut.
Pada bulan Juli, ia terpaksa melarikan diri ke Finlandia, tapi seruannya tentang “perdamaian, tanah, dan roti” mendapat dukungan luas yang terus meningkat, dan kaum Bolshevik berhasil meraih suara mayoritas di Soviet Petrograd. Di bulan Oktober, Lenin kembali secara diam-diam ke Petrograd dan pada 7 November, Garda Merah yang dipimpin kaum Bolshevik menggulingkan Pemerintahan Sementara serta memproklamasikan kekuasaan soviet.
Lenin menjadi diktator de facto negara Marxis pertama di dunia. Pemerintahan yang dipimpinnya menandatangani perjanjian damai dengan Jerman, menasionalisasi industri, dan membagikan tanah. Namun, mulai 1918, pemerintahannya harus menghadapi perang saudara yang dahsyat yang melawan pasukan pendukung Tsar.
Di 1920, pasukan pendukung Tsar berhasil dikalahkan, dan pada tahun 1922 Uni Republik Sosialis Soviet (URSS) didirikan.
Setelah Lenin meninggal di awal tahun 1924, jasadnya diawetkan dan disemayamkan di mausoleum di dekat Kremlin Moskow. Petrograd berganti nama menjadi Leningrad sebagai penghormatan kepadanya. Setelah terjadi perebutan kekuasaan, teman revolusionernya Joseph Stalin menggantikan Lenin sebagai pemimpin Uni Soviet.